ISTRI PAJANGAN Bagian 68: Fera Cari Gara-Gara

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Setelah Herlin, giliran Fera yang buat Cahyo emosi.

Sepulang sekolah, dia mendatangi kediaman Rihana.
Tanpa permisi, Fera main nyelonong.

Katanya, dia merasa itu rumahnya sendiri. Semua, karena Cahyo sudah tinggal di rumah Rihana.

“Kamu ini anak sekolah apa maling. Main masuk rumah orang tanpa permisi!” bentak Cahyo yang emosi melihat kedatangan Fera.

“Pa..Ini kan rumah papa. Masak masuk ke rumah orang tua sendiri, pakai permisi.” bantah Fera, semakin memancing emosi Cahyo.

“Kamu jangan kurang ajar ya Fera. Hargai ini bukan rumah kamu. Jadi, kalau mau masuk ke rumah ini, pakai aturan kamu. Sudah besar bukan tampah baik kelakuannya. Tapi sudah seperti orang tak berpendidikan!” bentak Cahyo dengan suara meninggi.

“Terus aja Pa. Maki-maki Fera. Fera kan anak tiri Papa. Bukan anak kandung Papa.” protes Fera.berusaha membela diri.

“Kamu pergi nggak dari rumah aku!” usir Cahyo sembari melempar asbak berbahan aluminium itu ke arah Fera.

Fera berusaha biasa saja. Dia tak menunjukkan rasa takut. Ditunggunya emosi Cahyo sampai mereda. Tak lama dia pun mengatakan apa tujuan kedatangannya siang ini.

“Pa. Mama masuk rumah sakit. Butuh biaya buat operasi usus buntu nya!” sebut Fera.

“Suruh aja dia bayar sendiri biaya rumah sakitnya.” balas Cahyo.

“Pa…kumohon Pa. Demi rasa kemanusiaan, tolongin bantu biaya perobatan Mama,” pinta Fera sedikit memaksa.

“Papa heran, mama kamu. Masih saja ganggu kehidupan papa. Papa maklum kalau kamu yang butuh dibantu. Karena memang nggak ada yang namanya mantan anak. Tapi, kalau sudah bercerai dari istri, tidak ada lagi hubungan. Paham kan kamu, Fera.” jelas Cahyo.

“Papa mohon, jangan lagi ganggu kehidupan papa. Papa ingin hidup tenang bersama keluarga papa yang baru. Tolong ya bilang sama mama kamu itu.” kata Cahyo lagi mulai merendahkan suaranya.

Sebenarnya Fera paham soal itu. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, dia harus tetap membela mamanya. Karena, bagaimana pun, Fera hidup bersama mamanya. Jadi, apapun kata Cahyo, Fera tak peduli.

“Apapun kata Papa, aku nggak peduli. Pokoknya hari ini aku harus dapat uang buat biaya perobatan mama di rumah sakit,” batin Fera.

Cahyo bergegas masuk ke kamar, meninggalkan Fera. Sekarang, tinggal Rihana yang diam mematung di ruang tengah.

“Tante, apa Tante nggak takut kena karma? Nggak peduli dengan sesama. Tante bisa saja suatu hari akan merasakan apa yang Fera rasakan hari ini, yaitu diabaikan.” kata Fera yang seakan mengancam Rihana.

“Maksud kamu apa Fera?! Kamu mengancam Tante? Menakut-nakuti Tante?!” kata Rihana santai.

“Ya begitulah.” kata Fera dengan nada sinis.

“Tahu nggak Tante, orang yang hidup susah itu, doanya makbul. Tante nggak takut kalau kami doakan hidup Tante berantakan?!” kata Fera terus menindas Rihana.

“Sekarang katakan apa maksud dan tujuan kamu kemari. To the point aja!” Rihana tegas.

“Beri aku uang 50 juta. Karena aku tahu, sekarang uang papa, kamu yang pegang kan Tante Rihana?” kata Fera, yang semakin kurang ajar sama Rihana.

“Cek aja dompet aku. Ada nggak atm papa kamu, aku simpan di tas atau dompet aku?! Ngawur kamu itu.” Rihana berusaha tak terpancing emosi dengan kata-kata Fera.

“Hahaha. Maling mana mau ngaku!” sindir Fera makin berani.

Tak ingin berdebat terlalu lama, Rihana menarik tangan Fera. Lalu berusaha memaksa Fera keluar dari ruangan rumahnya.

Dengan sekuat tenaga, Fera ingin melepaskan cengkeraman tangan Rihana. Tapi, rupanya tenaga Rihana lebih power full. Hingga akhirnya, Fera berhasil diusir Rihana dari rumah itu.

Fera marah, dengan menggedor-gedor pintu rumah Rihana. Lalu, memainkan bel pintu rumahnya.

Mendengar bel pintu rumah dipermainkan, Cahyo langsung membuka pintu. Memaki Fera dengan kata-kata kasar.

“Dasar anak iblis. Kamu paham nggak sekarang kamu berada di rumah siapa?!” bentak Cahyo yang serasa ingin menampar anak perempuannya itu.

“Aku bisa panggil RT setempat, dan aku bilang kamu bukan anakku, supaya mereka bisa segera mengusir kamu dari rumah ini.” tegas Cahyo tanpa titik koma.

Fera mulai akting, menangis tersedu-sedu di hadapan Cahyo.

“Pa. papa tega banget sama anak sendiri. Aku kemari hanya minta bantu. Minta belas kasih papa. Karena mama lagi terbaring tak berdaya di rumah sakit. Dia butuh biaya buat operasi. Fera nggak minta banyak. Hanya Rp 50 juta. Fera yakin, uang Rp 50 juta yang Fera minta, tak sebanding dengan yang papa berikan ke perempuan jahanam ini,” emosi Fera memuncak.

“Papa benar-benar nggak punya hati. Nggak punya empati pada sesama. Papa jahat. Padahal, bagaimana pun juga Papa pernah hidup serumah kan sama Mama. Nggak adakah setitik rasa belas kasihan papa pada Mama?” kata Fera terus memojokkan Cahyo.

Rihana terdiam melihat perdebatan sengit antara anak dan bapak itu.
Tanpa banyak bicara lagi, Cahyo bergegas meninggalkan Fera. Begitu juga Rihana. Dia tak ingin terlalu dalam, tenggelam dalam masalah Fera.

“Tinggalkan saja bocah iblis ini!” kata Cahyo, yang bergegas melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti Rihana. Lalu mengunci pintunya dari dalam.

“Mas. Sabar ya,” kata Rihana yang berusaha menenangkan Cahyo.

“Aku tak lagi mengenal anakku sendiri. Entah bagaimana ceritanya dia bisa sejahat itu sama orang tuanya. Dia begitu liar dan bicara tanpa sopan santun, sama aku.” ucap Cahyo, mengurut dada.

“Aku kira anak aku itu sudah berubah jadi baik setelah kejadian tempo hari. Ternyata, kelakuannya semakin parah dan tak terkontrol lagi.” Cahyo menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya pelan ke udara.

“Sabar ya Mas.” kata Rihana lagi.

Secangkir teh hangat, sudah tersedia di meja makan.
“Kita minum teh hangat ini dulu ya Mas, biar tenang.” Rihana menyodorkan secangkir teh hangat itu ke tangan Cahyo.

Dengan perasaan yang masih hancur karena ulah Fera, Cahyo menyeruput teh itu, pelan.

“Kalau dia minta baik-baik, aku mau bantu. Tapi, dia bicara kasar dan tak punya aturan, sama aku.” keluh Cahyo serius.

“Aku masih punya empati. Aku tahu bagaimana rasanya, ketika tak ada yang peduli, saat kita berada di titik nol. Sakit banget rasanya.” ucap Cahyo pelan.

“Kalau memang Mas Cahyo berniat ingin membantu, silakan Mas. Aku nggak melarang.” kata Rihana dengan sabarnya.

“Ya Allah kamu baik banget jadi orang. Ternyata aku nggak salah memilih kamu jadi istriku. Selain cantik, kamu juga berhati malaikat.” Cahyo memeluk erat Rihana.

“Yakin, kamu nggak marah kalau aku bantu mamanya Fera?” tanya Cahyo ingin memastikan.

“Ya Allah Mas, sumpah demi Allah aku ikhlas Mas. Karena itu ladang pahala buat kamu nanti Mas,” sebut Rihana dengan tulus.

“Memang luar biasa ya, hati kamu seputih salju. Seperti bidadari turun dari khayangan. Cantik, dan baik hati,” Cahyo terus memuji Rihana.

“Makasih ya sayang.” dikecupnya kening Rihana, penuh kasih.(*)

Exit mobile version