ISTRI PAJANGAN Bagian 65: Kedatangan Tamu Tak Diundang

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sore ini, Rihana ingin rebahan sebentar setelah melaksanakan sholat Ashar. Tapi rencana rebahannya itu batal, setelah mendengar suara bel pintu rumahnya berbunyi.

Dengan santai, Rihana menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Dikira Rihana, yang datang adalah Cahyo. Tadi, soalnya Cahyo keluar dari pagi, belum balik.

Katanya, ada urusan kantor sebentar. Padahal, status Cahyo saat ini masih cuti panjang. Tapi, namanya manager, nggak bisa lepas tangan seratus persen. Meski cuti, kalau ada urusan kantor mendadak, terpaksa harus ke kantor.

Betapa kagetnya saat Rihana membuka pintu rumahnya. Herlin, perempuan itu, mantan istri Cahyo.

“Rihana ya?!” tanya Herlin to the point.

“Oh iya….iya bener. Silakan.” balas Rihana, mempersilakan tamunya itu masuk.

Herlin menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan rumah Rihana yang bak istana.

“Wah……Mas Cahyo sayang banget sama kamu ya, sampai dibelikan rumah semewah ini,” celetuknya.

Mendengar itu, seketika rasanya Rihana ingin menendang perempuan tak tahu diri itu. Bertamu tapi kelakuannya aneh.

“Silakan….silakan…..Mbak.” kata Rihana yang mempersilakan tamunya untuk duduk di sofa ruang tamu itu.

Bukannya duduk, Herlin masih asik mengecek beberapa sudut rumah Rihana, tanpa izin.

“Mas. Ada yang nungguin kamu nih!” kata Rihana yang diam-diam mengambil gambar Herlin dari belakang.

Membaca pesan Rihana, Cahyo terkejut. Lalu mengirimkan emoticon orang marah.

“Ngapain dia datang ke rumah kita?!” tanya Cahyo by ponselnya.

“Itu dia Mas. Datang-datang dia ngecek beberapa ruangan rumah aku.” sebut Rihana.

“Sinting! Ngapain dia kayak begitu!” Cahyo emosi.
Tapi posisi Cahyo sedang menerima kunjungan kerja direksi pimpinan cabang PLN dari Kota Bandung.

“Maaf ya sayang. Kamu pasti terganggu dengan kedatangan dia?!” ucap Cahyo.

“Aku mau balik juga masih mendampingi tamu direksi pimpinan Cabang PLN Bandung. Besok mereka baru balik. Jadi mau atau nggak mau aku harus menyambutnya dengan baik,” ucap Cahyo masih emosi melihat ulah Herlin.

“Memang sialan dia itu.” kata Cahyo lagi.

“Dia mau ngapain sih datang ke rumah kita?!” tanya Cahyo nggak sabaran ingin tahu.

“Nggak tahu ini Mas. Dia masih cek-cek ruangan! Hahahahahh!” balas Rihana.

“Ya udah Mas lanjut ya dengan orang PLN Bandung nya. Aku layani dulu nyonya sinting ini,” kata Rihana lagi.
“Tunggu. Aku balik jam lima ya, aku temani mereka dulu ke hotel. Setelah itu aku tinggal balik. Banyak soalnya ini ada 9 orang tamunya. Jadi aku mohon pengertian kamu ya sayang. Maaf ya. Harusnya saat ini kita kan lagi bulan madu, peluk-pelukan. Cium-ciuman di kamar, sampai beberapa ronde. Eh aku malah kedatangan tamu dari jauh. Aku janji ya sayang besok aku ganti waktunya. Aku janji besok aku manjain kamu kalau sudah selesai urusan kantor aku.” ucap Cahyo panjang lebar dan dia merasa bersalah sudah membuat Rihana sendiri di saat bulan madunya itu.

“Ih apaan sih..Udah sana kerja yang fokus. Kalau soal bulan madu, gampang. Hahahahah!” balas Rihana santai.

*Kembali ke Herlin.
Setelah puas mengelilingi beberapa ruangan rumah Rihana, dia minta dibuatkan es teh.

“Ada es teh nggak ya di rumah mewah ini?!” tanya Herlin yang memegangi lehernya karena kerongkongannya haus.

“Ada Mbak. Tenang aja saya buatin. Tunggu ya.” kata Rihana, dan dia bergegas menuju ke dapur.
Tapi, lagi-lagi Herlin berkomentar aneh.
“Orang kaya tapi nggak punya pembantu. Buat minuman untuk tamu terpaksa buat sendiri. Kasihan banget orang kaya ini!” celetuk Herlin, asal.
Tapi, Rihana berusaha tak terpancing emosi.

“Tenang…..tenang Rihana. Kamu kan waras. Sedangkan tamu di rumah kamu ini, perempuan sinting,” kata Rihana, membatin dalam hati.

Sepuluh menit kemudian, Rihana membawakan segelas es teh, dan meletakkan di meja tamu.

Tanpa basa-basi, Herlin langsung meneguknya sampai habis, dalam sekali waktu.

“Gila! Langsung dihabiskan.” gumam Rihana lagi, terlihat kesal melihat ulah mantan istri Cahyo itu.

“Karena rumah kamu besar seperti istana, saya mau Fera tinggal disini juga. Karena ini kan rumah yang dibeli sama uang papa nya!” kata Herlin, dengan santainya.

“Maaf ya Mbak. Kamu salah menduga. Rumah ini adalah rumah aku, hasil pemberian dari mantan suami aku. Tolong diingat-ingat ya. Rumah ini bukan Mas Cahyo yang belikan.” kata Rihana to the point, untuk menghentikan aksi Herlin yang semakin gila, sejak pertama dia menginjakkan kakinya di rumah Rihana.

“Hahahaha. Kamu jangan sok punya mantan suami konglomerat. Aku yakin ini pemberian suami aku.” balas Herlin dengan sengitnya.

“Ya kalau nggak percaya ya silakan tanya ke Mas Cahyo,” ungkap Rihana masih berusaha santai.

“Hahahaha. Kamu berhalusinasi ya. Akui saja ini pemberian Mas Cahyo kan?!” desak Herlin pada Rihana.

Rihana nggak mau membahas lagi.
“Sebenarnya tujuan Mbak datang ke rumah saya, ada apa ya?” Rihana berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Saya mau, kamu harus terima Fera tinggal bersama kamu!” sebut Herlin dengan nada memaksa.

“Oh itu, nggak masalah Mbak. Silakan aja. Aku terima dengan senang hati. Sebentar lagi kami mau pindah ke Jogja.” jelas Rihana.

Seketika Herlin terlihat panik.
“Pasti kamu mau menghindar kan dari aku?” tebak Herlin.

“Itu dia. Terserah aja Mbak mau ngomong apa. Yang pasti secepatnya kami pindah ke Jogja.” tegas Rihana serius.

“Oh berarti rumah ini bisa aku tempati,” tukas Herlin dengan rasa percaya dirinya.

“Nggak bisa Mbak. Kemungkinan besar saya akan jual rumahnya. Lagi pula, nggak mungkin kan bolak-balik Jogja – Jakarta. Kemana Mas Cahyo pergi, aku akan mengikutinya Mbak.” ucap Rihana mantap.

Herlin melepas tawa.
“Jangan mimpi!” celetuk Herlin merendahkan Rihana.

“Cepet balik Mas ya kalau sudah siap urusannya. Dia kayaknya mau nginep di rumah kita.” Rihana mengirimkan pesan itu ke Cahyo dengan membubuhkan emoticon orang tertawa.

“Oke. Kalau nginap, suruh aja tidur di kamar pembantu. Dasar perempuan sinting!” balas Cahyo. Cahyo jadi nggak tenang, karena Herlin berlama-lama di rumah Rihana.

“Saya mau istirahat di sini sembari menunggu Fera datang. Kemungkinan Fera dan aku mau bermalam di rumah ini. Boleh kan……soalnya ini kan rumah papa nya Fera juga.” kata Herlin, buat Rihana menepuk jidatnya.

“Bener banget memang dia ini. Tadi Rihana mengirimkan chat itu ke Cahyo hanya sekedar candaan. Ternyata Herlin mau menginap di rumah aku beneran. Memang sinting dia ini!” gumam Rihana dalam hati.

Sesuai arahan Mas Cahyo, Herlin disediakan kamar pembantu.

“Oh boleh Mbak. Kamar pembantu kosong.” kata Rihana santai.
“Kamu jangan kurang ajar ya! Nggak menghargai tamu ya. Aku ini bukan pembantu! Tamu itu adalah raja! Jadi hormati.” bentak Herlin emosi.

“Hmmm. Gimana ya Mbak. Memang cuma ada kamar pembantu yang kosong. Lainnya, kamar anak-anak aku. Nggak mungkin dong mereka tidur di kamar pembantu.” jelas Rihana tegas.

“Jadi, mau nggak mau, kamu tidur di kamar pembantu ya Mbak?!” ucap Rihana setengah kesal.

Tanpa debat lagi, akhirnya Herlin mau saja tidur di kamar pembantu. Karena dia benar-benar nggak mau balik, meski waktu telat menunjukkan pukul sebelas malam. Cahyo sendiri, masih belum kelar dengan urusannya mendampingi tamu jajaran direksi PLN Bandung.(*)

Exit mobile version