ISTRI PAJANGAN Bagian 62: Riko dan Fera Ketemu di Acara Ultah

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sore itu, Fera buru-buru menyelesaikan pekerjaan rumah yang sudah menjadi tugasnya sehari-hari. Menyapu rumah dan halaman.

“Ma. Fera minta uangnya ya, Rp200 ribu. Buat beli kado acara ultah sahabat Fera.” Fera bohong. Padahal dia nggak ada niat buat beli kado.

“Banyak banget,” protes Herlin mamanya Fera.
“Belikan kue ultah aja murah paling nggak sampai seratus ribu.” masih kata Herlin yang tak suka mendengar permintaan Fera.

“Kue cake ultah itu paling murah harganya Rp180 ribuan Ma?!” sebut Fera memutar otak agar permintaannya dikabulkan mamanya.

“Nanti mama yang beli kalau begitu. Pasti dapat yang murah!” kata Herlin yang juga berusaha mempertahankan pendapatnya.

“Ih nggak mau. Nanti mama pilih kue cake nya yang nggak enak. Fera mau beli sendiri aja!” Fera masih ngotot.

“Dasar anak monyet!” celetuk Herlin kesal.

“Coba minta sama bapak kamu. Pasti dikasih. Mama nggak ada duit?!” sebut Herlin to the point ke Fera.

Fera terlihat bersungut-sungut mendengar pengakuan Herlin, mamanya itu.

“Mama. Mama tahu sendiri kan. Aku baru saja kelahi sama dia.” kata Fera ketus.

“Kenapa sih kalian harus pakai kado-kadoan segala. Kalian kan belum kerja. Belum becus menghasilkan uang.” tukas Herlin lagi masih dengan nada kesal.

Tak lama, diliriknya dompet Herlin ada di depan tv. Dengan kecepatan kilat, dia menyambar dompet itu. Apa yang dia lihat, langsung diambilnya. Dua lembar uang seratus ribuan.
“Makasih mama sayang!” teriak Fera lalu bergegas pergi meninggalkan rumah.

Melihat itu, Herlin berusaha ingin meminta uang itu lagi dari tangan Fera. Tapi, Fera sudah kabur.

Sebenarnya, Fera tak sungguh-sungguh menggunakan uang itu untuk beli kado. Uangnya buat pegangan atau isi dompet Fera. Takutnya kalau lagi kumpul sama teman, di acara ultah, nggak mungkin nggak pegang uang.


Di rumah Naya, Fera numpang mandi. Karena persiapan acara ultah kurang satu jam setengah lagi. Kalau balik ke rumah, pasti rencana pergi ultahnya bakal gagal karena pasti dihalangi mamanya.

“Nay. Kamu bawa kado nggak ke acara Ultah Fitria?!” tanya Fera ingin tahu.

“Iya nih. Aku beli Silverqueen aja dua.” sebut Naya. Fera pun ikut-ikutan beli Silverqueen tapi varian yang beda dengan Naya.

“Kalau begitu aku juga beli Silverqueen aja kali ya simpel!” sebut Fera.

“Hahahah. Iya. Lagian aku jga nggak punya uang mau beli yang mahal-mahal!” sebut Naya jujur ke Fera.

“Iya. sama. Apa bedanya sama aku?!” sebut Fera.

“Hahahahah!” Naya kembali melepas tawa.

“Kita gerak jam 19.00 wib ya. Mau isi bensin dulu aku ke SPBU.” kata Fera.

“Oke sip..Aku nebeng motor kamu ya?!” kata Naya tanpa basa-basi.

“Iya aman. Kita kan gerak bareng dari rumah kamu. Aku malas balik ke rumah. Nanti mama aku ribut kalau tahu aku mau pergi ke acara ultah!” sebut Fera.

“Hmmm. iya. Mungkin kalau aku tinggal sama mama aku. Pasti ribet juga urusannya!” celetuk Naya, yang saat ini statusnya anak kos dan juga anak rantau.

Orang tua Naya, jauh di kota Padang. Naya sendiri, merantau ke kota Jakarta, untuk menempuh pendidikan bangku SMA dan berencana untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.


Waktu menunjukkan pukul 18.30 wib.
Fera dan Naya bersiap menuju lokasi acara ultah Gea. Anak orang paling kaya di sekolah Fera.

Tak hanya sekedar anak orang paling kaya. Gea juga jadi rebutan cowok-cowok di sekolahnya. Termasuk Riko, dikabarkan sempat menjalin asmara dengan Gea.

Keduanya putus, karena Gea punya gebetan lain, selain Riko. Tapi di sisi lain, status hubungan asmara Gea dan Riko, putus nyambung.

Fera yang tahu soal cerita ini, merasa tertantang dan berusaha mendapatkan cinta Riko.


“Ma..Riko mau ke acara ultah Gea.” kata Riko pamitan ke Rihana.
“Hmmm. Siapa tuh Gea?!” goda Rihana, dan Riko tampak tersenyum malu-malu kucing.

“Anak manja dan anak orang paling kaya di sekolah Riko,” jawab Riko asal.

“Oh ya……berarti itu calon menantu mama ya?! Tapi ingat. Bukan untuk sekarang. Tapi untuk waktu yang tepat, di saat Riko sudah sukses. Jangan coba-coba dekati anak gadis orang, kalau belum jadi apa-apa. Karena penghinaan yang bakal kamu dapat, dari calon mertua.” kata Rihana panjang lebar berusaha menasehati anak lelakinya itu.

“Sekarang tugas kamu cuma fokus belajar. Awas aja kalau sampai pacar-pacaran. Mama nggak akan maafin kamu kalau sampai ketahuan pacaran!” sebut Rihana lagi, setengah mengancam.

“Mau tahu nggak ancaman hukuman buat yang melanggar aturan mama?!” sebut Rihana tegas.

“Mama akan keluarkan Riko dari daftar keluarga. Mama nggak peduli kamu jadi gembel atau gelandangan di jalanan.” tegas Rihana penuh penekanan.

“Ih serem. Jahat banget jadi mama!” celetuk Riko.

“Coba aja kalau kamu nggak percaya dengan ancaman mama. Silakan tes! Kamu pacaran aja sama siapa. silakan. Tapi jangan harap masa depan kamu cerah?!” tukas Rihana.

Mendengar itu, Riko senyum-senyum sendiri.
“Lagian Ma. Aku juga nggak mau nikah muda Ma..Masih enak melajang. Karena melajang itu tanpa beban.” jelas Riko yang berusaha meyakinkan Rihana.

“Hmmm. Baguslah kalau kamu sadar akan hal itu. Awas aja kalau dilanggar. Ingat bahwa ancaman mama nggak akan main-main.” sebut Rihana lagi untuk kesekian kalinya.

“Ma. Udahan kan ceramahnya?! Riko telat nih udah jam 19.30 wib!” kata Riko yang menyalami paksa tangan Rihana.

“Awas ingat jam 12 malam teng harus sudah di rumah. Kalau belum pulang, mama kunci pintu!” ancam Rihana serius.

“Iya Mama Rihana tercinta!” seloroh Riko sambil bergegas meninggalkan Rihana sendiri.

Rihana hanya geleng-geleng melihat tingkah Riko. Bagaimana pun juga, anak bujangnya itu sudah mulai beranjak dewasa. Rihana harus mendidiknya dengan ekstra. Rihana tak mau melihat tingkah laku anak bujangnya itu keluar dari jalur.


Rumah mewah di bilangan Tangerang itu, sudah dipenuhi mobil mewah. Hanya beberapa gelintir orang yang pakai motor. Termasuk Riko.

Tapi, Riko pede aja. Dia nggak minder. Bersamaan dengan kedatangan Riko di rumah Gea, rupanya Fera juga menyusul di belakang Riko.

Fera mencoba menyapa Riko terlebih dahulu.
“Riko tunggu. Bareng masuknya!” teriak Fera tanpa malu-malu.

Riko bersikap cuek saja. Dia bahkan tak peduli dan tetap melangkahkan kakinya menuju rumah mewah milik Gea, setelah memarkir motornya di halaman rumah Gea.

Melihat Riko cuek, Fera kesal.
“Sombong banget jadi cowok!” gerutu Fera.
“Awas aja kamu Riko. Aku akan buat kamu bertekuk lutut di depan aku!” batin Fera meyakinkan.

“Riko. Selamat datang!” suara Gea menyapa Riko.
Fera langsung terbakar api cemburu. Karena dilihatnya sikap Riko begitu hangat pada Gea.

“Riko kamu nggak boleh sama Gea?!” batin Fera kesal.

Dengan wajah sedikit bersungut-sungut Fera masuk ke rumah Gea.
Sudah menit kesepuluh, dilihatnya Riko masih ada di dekat Gea.

Hati Fera semakin panas ketika melihat Riko menyerahkan kado kecil berwarna pink, ke tangan Gea.

“Kenapa sih harus mesra di depan aku!” gerutu Fera dalam hati, makin kesal.(*)

Exit mobile version