Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Fera tiba-tiba punya ide gila setelah mengetahui papanya, Cahyo akan bersatu dengan Rihana.
Dia mendatangi rumah Rihana lalu mengarang cerita soal uang sekolah yang menunggak, karena harus membiayai perobatan ibunya yang sakit parah.
Pagi itu, Rihana buru-buru hendak keluar mencari makan, karena perutnya sudah keroncongan.
Ia sengaja nggak masak hari ini.
Tapi, rencananya gagal karena tiba-tiba dia mendapati Fera bertamu ke rumahnya.
Dengan berlinang air mata, Fera bersandiwara di depan Rihana.
“Tante, tolongin Fera,” Fera akting menangis tersedu-sedu, meski posisinya masih di depan teras rumah Rihana.
“Ya ampun Fera….kenapa ini. Masuk dulu ke dalam.” ajak Rihana, sembari memeluk hangat bocah itu, dia juga mempersilakan Fera masuk ke dalam rumah.
“Tante. Tolongin Fera.” desaknya lagi sambil terus dengan akting menangis.
“Iya…..coba tenangkan diri Fera dulu ya. Terus Fera cerita apa masalahnya.” ucap Rihana pelan dan penuh hati-hati.
“Fera butuh bantuan Tante,” ulang Fera lagi masih dengan tangisnya yang sesenggukan.
“Iya….Tante tolong. Tapi apa masalahnya Fera. Coba Fera tenangkan diri dulu. Tarik nafas pelan-pelan, lalu hembuskan pelan-pelan.” saran Rihana. Dia masuk ke dalam, dan membawakan air putih hangat buat Fera.
“Coba minum air hangat dulu sayang, biar tenang,” kata Rihana menyodorkan secangkir air hangat itu ke tangan Fera.
Fera pun mengikuti apa yang disarankan Rihana.
Setelah terlihat tenang, Rihana kembali bertanya pelan-pelan ke Fera.
“Gimana, rasanya sudah enakan ya?!” tanya Rihana penuh perhatian.
Rihana sebenarnya tak menaruh rasa dendam pada gadis ABG itu. Dia sudah berusaha melupakan apa yang pernah diperbuat Fera, padanya.
Fera masih terdiam. Tapi tangisnya terhenti. Dia coba mengatur kata-kata, agar Rihana percaya dengan yang dia ucapkan saat ini.
“Sekarang, kalau sudah tenang, Fera cerita ke Tante ya apa masalahnya,” ucap Rihana pelan.
“Tante, Fera butuh bantuan Tante,” ulang Fera kali ini dia lebih berani mengatakan itu ke Rihana.
“Hmm. Iya, Fer. Cerita sama Tante, apa yang bisa Tante bantu buat Fera.” Rihana mengukir senyum kecil di sudut bibirnya.
“Tante. Tahu nggak. Fera sudah menunggak bayar uang sekolah selama 6 bulan!” sebut Fera dengan aktingnya yang meyakinkan Rihana.
“Oh itu. Gampang. Nanti Tante bantu. Masalahnya nggak terlalu berat kan. Hanya soal uang sekolah,” dengan polosnya, Rihana berusaha menghibur Fera. Dia percaya begitu saja dengan cerita Fera.
“Berapa per bulannya?”
“Rp300 ribu, Tan.” sebut Fera, suka-suka.
Padahal, uang sekolah yang dia bayarkan setiap bulan, sudah dibayar Cahyo, rutin setiap bulan, beserta uang jajan Fera, yang jumlahnya satu juta per bulan.
Rihana meraih ponselnya. Langsung mengetikkan angka yang diminta Fera.
“Berarti, Tante transfer ke Fera satu juta delapan ratus ribu rupiah ya,” tanya Rihana ingin memastikan jumlahnya.
Seketika, dalam hati, Fera kegirangan.
“Masuk perangkap aku lu, Rihana!” batin Fera, kegirangan.
“Makanya, nggak gampang untuk dapatkan pria bernama Cahyo,” gerutu Fera lagi, dalam hati.
“Udah ya Fer. Cek aja. Semoga uang dari Tante, bisa sedikit membantu meringankan beban Fera ya,” ucap Rihana berusaha menenangkan Fera.
“Makasih Tante ya, Tante sudah membantu Fera,” ucapnya basa-basi.
Rihana menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.
“Tante Fera pamit ya, soalnya mama aku sudah nunggu di rumah. Tadi aku bilang kalau mau ke rumah kawan sebentar,” kata Fera, dan dia bergegas meninggalkan rumah Rihana dengan hati yang riang.
Sepulangnya Fera, Rihana merasa ada yang aneh dengan Fera. Rihana sebenarnya tahu Fera berbohong.
“Tapi ya sudahlah. Anggap saja ini ujian untuk mendapatkan Cahyo.”
Rihana bicara dengan dirinya sendiri dan dia pun melepas tawa kecil.
“Calon anak tiri bikin sebel..Hahahahah!”
“Sejam yang lalu, Fera baru saja datang ke rumah Rihana. Sekarang, giliran papa nya yang datang.” kata Rihana, di depan Cahyo yang baru saja menjejakkan kakinya di rumah Rihana.
“Serius?” tanya Cahyo keheranan.
“Ngapain dia? Nggak aneh-aneh kan bocah tengil satu itu!?” tambah Cahyo lagi ingin tahu.
“Tebak hayo dia ngapain ke rumah aku.” canda Rihana, buat Cahyo penasaran.
“Ngapain emangnya?!” Cahyo masih tak bisa menebak pertanyaan dari Rihana.
“Ngasih kue?” tebak Cahyo.
“Hahahaha. Hayo. Tebak lagi!” desak Rihana.
Tapi, sejauh ini, Rihana belum ingin menceritakan soal kedatangan Fera ke rumah Rihana.
“Ih kenapa wajah papanya jadi panik begitu?! Biasa aja kali,” goda Rihana sembari iseng mencolek pipi Cahyo.
“Serius ini Ri. Ngapain bocah tengil kemari?!” Cahyo makin penasaran.
“Hahahahah. Dia main aja sih.” kata Rihana berbohong. Dia tak ingin merusak suasana, ketika dia harus jujur ke Cahyo, soal anak gadisnya itu.
“Nggak mungkin dia main aja. Pasti ada apa-apa nya dia main ke rumah kamu,” Cahyo mulai terlihat emosi, dan berprasangka buruk terhadap Fera.
Rihana mendekati Cahyo. Lalu memeluknya dengan hangat.
“Sudah..Nggak usah dipikirin. Anak gadis Mas Cahyo itu, baik kok dia. Sepertinya dia sudah berubah Mas,” Rihana terpaksa berbohong karena tak ingin Cahyo marah.
“Iya semoga aja apa.yang kamu katakan itu jadi kenyataan. Aku nggak tahu kenapa dia bisa seperti itu, suka berniat jahat sama kamu. Salah kamu apa coba? Dan…..sepertinya dia berusaha menggagalkan hubungan kita,” ucap Cahyo sedikit emosi.
Rihana ingin membenarkan apa yang diucapkan Cahyo. Tapi, Rihana lebih memilih diam, agar tak menambah masalah baru.
“Nanti aku cari tahu sendiri apa yang dilakukan Fera, sampai dia datang ke rumah kamu. Aku nggak yakin kalau dia datang cuma main. Aku tahu Fera itu seperti apa. Kalau dendam sama orang dan dendam nya belum terbalaskan, dia masih akan terus mencari cara buat target dia tercapai,” jelas Cahyo, buat Rihana menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan ke langit-langit ruang tamu, dimana dia dan Cahyo berbincang.
“Ah sudahlah sayang. Jangan bahas itu. Fera itu baik kok, karena kurang perhatian aja, jadi sikap nya terkadang bikin kita geleng-geleng kepala. Aku yakin Fera itu orangnya penyayang.” ucap Rihana berusaha mengalihkan pembahasan.
“Makan di luar yuk, aku belum makan. Lapar. Hari ini aku nggak masak. Anak-anak bujang aku, pada sibuk dengan hidupnya masing-masing. Untung aku punya kamu, Mas,” goda Rihana, dan candaan itu sedikit meredakan ketegangan di wajah Cahyo.
Tanpa basa-basi, Cahyo memeluk Rihana erat. Dia mengucapkan terimakasih atas kesabaran Rihana menghadapi ulah Fera yang terkadang sering di luar dugaan.
“Ri. Aku bersyukur banget punya calon istri dan juga calon ibunya Fera yang baik hati kayak kamu. Kamu sabar menghadapi Fera. Aku salut sama kamu. Sekali lagi, maafkan Fera ya Ri, kalau memang sikap dia selama ini selalu membuat kamu repot atau pun sakit hati.” ucap Cahyo yang tak sadar meneteskan air mata.
“Lah. Ini calon suami aku kenapa berubah jadi cengeng ya. Oalah. Laki-laki kok menangis,” Goda Rihana sembari mengusap air mata Cahyo yang sudah terlanjur jatuh. Tapi, tak sampai banjir.
Tak lama, Rihana mengulang lagi ajakan makan siangnya sama Cahyo.
“Yuk Mas temani aku makan siang. Lapar banget perut aku.” ajak Rihana manja.
“Iya udah yuk. Aku juga belum makan. Pengen makan siang juga bareng kamu,” aku Cahyo jujur.
Keduanya pun meluncur ke rumah makan langganan mereka.
“Mas. Itu bukannya Fera?!” kata Rihana yang melihat Fera juga ada di rumah makan langganan Rihana.
“Oh kalau begitu, ya udah kita ajak aja dia makan ya Mas,” ucap Rihana.
“Boleh…..boleh….,” jawab Cahyo.
“Sekalian juga aku mau tanya soal tadi dia ngapain ke rumah kamu. Aku mau tes dia. Jujur atau bohong,” kata Cahyo, terlihat serius.
“Ya nggak usah kali Mas. Nanti jadi masalah, terus nggak jadi makan kita.” Rihana melarang Cahyo.
“Hmmm. Baiklah kalau begitu.” Cahyo pun menurut apa kata Rihana.
Tapi, ironisnya, ketika Fera melihat kedatangan Cahyo dan Rihana, bocah ABG itu malah buru-buru melarikan diri.
Cahyo makin curiga dengan sikap Fera yang aneh kali ini.
“Fera! Berhenti!” teriak Cahyo yang berusaha menghentikan langkah Fera. Tapi, Fera justru mengabaikan panggilan Cahyo.
Ketika Cahyo mencoba menghubungi ponselnya, ternyata di luar jangkauan.
“Ri. Kenapa dengan Fera..Sepertinya dia ketakutan banget lihat kedatangan kita?” Cahyo heran dan campur emosi.
“Besok, aku harus ketemu empat mata sama dia. Ada apa dengan Fera. Lihat kita datang, kayak lihat hantu, dan berlari sekuat tenaga menghindar dari kita,” Cahyo terlihat menahan emosi, karena penasaran dengan sikap Fera yang kali ini sedikit di luar nalar.
“Aku yakin dia ada salah. Makanya dia lari saat kita hendak mendekati dia. Padahal, kita kan nggak ngapa-ngapain sama dia. Aneh. Ini harus diselesaikan secepatnya!” tukas Cahyo penasaran.
“Ya udah Mas. Sekarang kita makan dulu. Siapa tahu tadi itu Fera ada perlu atau janjian sama kawannya. Makanya dia buru-buru lari.” Rihana berusaha menenangkan Cahyo.
“Tapi, aneh aja dia kali ini. Ketemu kita seperti ketemu hantu.” protes Cahyo. Rihana pun hanya bisa diam mendengar itu dari Cahyo.(*)
