Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Sore pukul 17.00 wib, proses perhitungan suara sudah selesai. Apa yang ditargetkan Bagas, tak sesuai ekspektasi. Bagas kalah. Angka perolehan suaranya jauh dari yang ditargetkan.
Serangan fajar sudah dilakukan dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp900 juta. Tapi, apa yang sudah diusahakan Bagas, tak membuahkan hasil.
Para konstituen dan pendukung setia Bagas, banyak yang membelot, karena kurang serangan fajarnya.
Bagas uring-uringan, setelah tujuannya tak bisa terwujud.
“Bodoh banget kalian ini,” maki Bagas pada, Rozak, tim sukses yang selama ini jadi tangan kanannya.
“Sudah saya berikan sesuai arahan ketua, kemarin uangnya.” sebut Rozak berusaha membela diri.
“Sekarang faktanya, aku kalah. Kalian kurang pandai di lapangan,” Bagas terus menyalahkan para tim sukses yang bekerja melakukan serangan fajar.
“Tim lawan memberikan umpan lebih banyak, ketua!” ucap Giring, memberi alasan pada Bagas, yang terus uring-uringan.
“Ah itu bukan alasan. Intinya kalian nggak bisa kerja,” Bagas membentak tim suksesnya lagi.
Bagi Bagas, sejak kekalahannya sore itu, semua tim sukses Bagas, tak ada yang benar, di mata Bagas. Semua dianggap bodoh dan tak bisa bekerja.
Semua tim sukses dipanggil Bagas. Mereka dimaki-maki dengan kata-kata kasar.
Termasuk Rihana. Dituduh tak mendukung kesuksesan Bagas.
“Benar kata mama aku. Kamu memang nggak berguna. Nggak ada sedikit pun kamu tergerak membantu aku supaya menang.” tuduh Bagas.
“Kamu ngasih aku dana kampanye?! Nggak kan?! Jangan bisa nya menyalahkan orang lain Mas, tanpa introspeksi diri.” bantah Rihana yang tak mau terus-terusan disalahkan karena Bagas kalah perang.
“Ah sudahlah. Kembalikan villa nya!” bentak Bagas.
“Oh memang sudah aku duga. Nggak masalah. Aku masih bisa tinggal di luar dengan rumah yang layak. Aku keluar dari villa itu, nggak jadi gembel kok!” bentak Rihana balik.
Rihana sudah menduga kalau Bagas kalah, pasti villa yang dia tempati sekarang, bakal diminta balik sama Bagas.
“Aku bersyukur dengan kalahnya kamu, kita jadi cerai kan?!” tukas Rihana penuh semangat.
“Terserah. Atur saja mana baiknya!” bentak Bagas penuh emosi.
Seketika, Bagas berlalu dari hadapan Rihana. Begitu juga Rihana, bersiap keluar dari rumah Bagas.
Tak hanya itu, dia juga bersiap keluar dari villa mewah yang sempat dia tempati beberapa bulan belakangan.
Rihana mantap mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama, setelah semua yang terjadi pada dirinya.
Lagi pula, ini kesempatan yang Rihana tunggu, agar bisa segera terbebas dari ikatan pernikahan dengan Bagas.
Semua sudah tak sejalan. Bagas tak pernah lagi menginginkan Rihana. Bagi Rihana, semua sudah selesai.
Fitriani, adalah orang pertama yang diberi kabar Rihana soal keseriusan Rihana segera bercerai dari Bagas.
Fitriani begitu bahagia mendengar ini. Karena, setidaknya Rihana bisa hidup tenang tanpa harus sama Bagas.
“Fit. Tahu kan kamu. Bagas kalah dalam pemilihan wakil rakyat di DPR RI.” sebut Rihana by sambungan ponsel genggamnya.
“Beneran dia kalah?!” Fitriani tak percaya.
“Iya. Kurang duit kayaknya buat serangan fajarnya. Hahahahah!” seloroh Rihana serius.
“Oh ya?!” Fitriani heran.
“Tahu nggak Fit. Dengan kalahnya Bagas di pemilihan wakil rakyat ini, Villa yang pernah dikasih ke aku itu, diminta Bagas, lagi Fit.” Curhat Rihana sedih.
“Semua sudah aku duga sih Fit, jauh-jauh hari. Tapi, sebenarnya nggak ngaruh juga mau diminta atau nggak sama Bagas. Sekarang, yang pasti aku nggak terbelenggu lagi dengan keluarga Subroto.” kata Rihana penuh bahagia.
“Ri.Ini kamu posisi dimana. Kalau kamu mau niat keluar dari villa itu, terus kamu mau tinggal dimana?” Fitriani khawatir akan nasib Rihana saat ini.
“Oh gampang aja aku Fit. Bisa tinggal di mes?!” jawab Rihana serius.
“Mes?!”
“Iya. Mesjid!” jawab Rihana nyeleneh.
“Udah gini aja. Kalau kamu mau keluar dari villa itu, kamu boleh tinggal sementara di rumah aku. Tapi Ri. Maaf rumah aku sederhana banget.” ucap Fitriani menawarkan tumpangan sementara.
“Nggak apa Fit. Gampang. Sewa rumah juga banyak dimana-mana. Tinggal pilih tipe berapa, ada aja.” kata Rihana menggampangkan.
“Hmmm. Serius. Kalau nggak dapat rumah sewanya. Kamu boleh tinggal di rumah aku, sementara,” ucap Fitriani lagi, serius.
“Iya Fit. Makasih banyak ya. Kamu memang sahabat terbaik. Selalu ada, di saat aku susah atau senang,” ucap Rihana pelan.
“Kapan rencana kamu mau pindah. Aku bantuin ya.”
“Belum tahu Fit. Tapi secepatnya kalau surat cerai itu sudah di tangan aku.” jelas Rihana mantap.
“Terus..Mas Cahyo sudah tahu belum soal ini. Soal kamu sudah cerai dari Bagas?!”
“Belum Fit.”
“Kabari aja dia. Pasti dia bahagia, mendengar kabar ini,” Fitriani turut bahagia.
“Nanti lah Fit. Aku masih harus mikir dulu. Takut ditolak lagi.” ungkap Rihana khawatir.
“Nggak mungkin Ri kalau ditolak lagi. Bukannya kalian sudah sepakat mau berjuang bersama, buat kalian bisa bersatu?!” ucap Fitriani.
“Iya. Cuma aku masih takut aja. Tunggu semesta merestui aku.” Rihana mendadak puitis.
“Beuh. Sejak kapan kawan aku satu ini jago buat puisi. Hahahahaha!”
“Belum tahu ya kamu. Aku ini adiknya Khairil Anwar, sang pujangga legendaris itu. Hahahaha!” Rihana tampak bahagia saat ini.
Kabarnya, semua pihak yang memberikan dukungan dana kampanye, menagih janji Bagas. Semua dana yang telah diberikan untuk pemenangan Bagas, dipermasalahkan, karena Bagas kalah.
Mereka minta dananya dikembalikan. Kalau tidak dipenuhi Bagas, Bagas siap-siap masuk bui, dengan tuduhan menggelapkan uang orang lain.
“Tolong kosongkan villanya. Mau aku lelang buat bayar ganti rugi dana kampanye,” perintah Bagas pada Rihana.
“Tenang Mas, aku sudah pindah sejak kamu meminta balik villa itu. Kuncinya sudah aku serahkan ke mama kamu.” jelas Rihana dengan nada meyakinkan.
“Baguslah!” kata Bagas seraya menutup percakapannya dengan Rihana.
Fatimah tak henti menangis karena Bagas mengetakan bakal melelang rumah mewah mereka itu.
“Villa itu dibeli sama papa kamu dengan susah payah, Bagas. Kenapa sekarang kamu jual dengan harga miring?!” keluh Fatimah dengan berurai air mata.
“Ma. Mereka minta ganti rugi dana kampanye yang pernah diberikan ke aku. Karena aku kalah Ma!” jelas Bagas serius.
“Iya tapi kenapa villa itu.” protes Fatimah.
“Villa itu villa kenangan Bagas. Tolong jangan dijual,” pinta Fatimah.
“Tak hanya villa yang kemarin ditempati Rihana, ma yang akan aku jual. Saham beberapa perusahaan juga akan berpindah tangan ke pemilik yang baru.” sebut Bagas lagi, lebih rinci.
“Apaaa?” Fatimah syok mendengar pernyataan Bagas.
“Jangan lakukan itu Bagas. Papa kamu sedih pasti?” ucap Fatimah terus berusaha meminta Bagas untuk membatalkan peralihan pemilik perusahaan milik Subroto.
“Nggak ada jalan lain Ma.” tukas Bagas, lemah.
“Terus nanti nasib anak-anak kamu gimana?! Mereka butuh biaya buat sekolah. Gimana Bagas?” Fatimah mengkhawatirkan keberadaan kedua cucu laki-lakinya itu. Gilang dan Riko.
“Gampang Ma. Ada Rihana. Dia yang akan tanggungjawab akan masa depan Gilang dan Riko.” sebut Bagas meyakinkan mamanya.
“Jangan ngawur kamu Bagas. Aku nggak mau kedua cucu aku nanti terlantar!” ucap Fatimah masih bersikeras memikirkan nasib anak-anak Bagas.(*)
