Batam, Posmetrobatam.co: Warga Pulau Sembur, Kelurahan Galang Baru, Kecamatan Galang, Kota Batam, kini mendapat akses listrik 24 jam dengan biaya yang diproyeksikan jauh lebih murah. Pemerintah telah menghadirkan PLTS berkapasitas 1 megawatt peak (MWp) yang dilengkapi baterai 1 megawatt hour (MWh) di wilayah tersebut.
Pembangunan PLTS Pulau Sembur menjadi bagian dari program nasional PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto, Selasa (25/8). Presiden secara resmi melakukan peluncuran dan groundbreaking secara daring dari Bali.
Di Batam, Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Harris, mengatakan kapasitas PLTS Pulau Sembur mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 200 kepala keluarga selama 24 jam. Kondisi itu berbeda dengan sebelumnya. Warga hanya mengandalkan genset pribadi atau genset bersama dengan waktu pemakaian terbatas.
“PLTS yang ada di sini dengan kapasitas 1 MW dengan baterai 1 MWh itu sudah sangat-sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan 24 jam per hari masyarakat Sembur,” Harris, usai meresmikan PLTS di Pulau Sembur, Galabg Baru, Kecamatan Galang, Kota Batam.
Harris menyebut PLTS tersebut juga menghasilkan surplus energi. Pemerintah dapat mengarahkan kelebihan listrik untuk mengembangkan aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor perikanan.
Harris mengatakan pemerintah menargetkan program PLTS 100 GWp rampung dalam tiga tahun. Pemerintah membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, BUMN, swasta, hingga lembaga pembiayaan untuk mengejar target tersebut.
Sejumlah fasilitas seperti cold storage dan ice maker telah disiapkan untuk memanfaatkan energi tersebut. Pemerintah juga membuka peluang menyalurkan kelebihan daya untuk mendukung kebutuhan nelayan di pulau-pulau sekitar.
“Kami ingin pulau-pulau kecil di Indonesia terang benderang dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” harapnya.
Sementara, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menambahkan, bahwa PLTS juga memberi manfaat langsung terhadap pengeluaran warga. Sebelum menggunakan PLTS, warga menghabiskan sekitar Rp500 ribu per bulan untuk mengoperasikan genset. Setelah beralih ke energi surya, biaya listrik diproyeksikan turun menjadi sekitar Rp200 ribu per bulan.
Sekarang dengan adanya energi yang melimpah ini insyaallah spending-nya lebih murah, hanya Rp200.000 per bulan kurang lebih,” terang Oki.
Ia menilai penghematan tersebut menunjukkan manfaat energi terbarukan bagi masyarakat pulau. Oki bahkan menggambarkan kebutuhan listrik bulanan warga bisa dipenuhi dari hasil tangkapan satu hingga dua ekor ikan.
Senada, Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Misni, menyebut program tersebut membantu pemerintah daerah mempercepat pemerataan akses listrik.
Saat ini, tingkat elektrifikasi Kepri mencapai sekitar 99,55 persen. Namun, sebagian masyarakat di wilayah kepulauan masih menerima listrik hanya 8 hingga 12 jam sehari.
“Dan ini termasuk salah satu desa dengan masyarakat 200 KK yang 24 jam bisa menikmati listrik,” kata Misni.
Kepri memiliki sekitar 396 pulau berpenghuni dengan karakter geografis yang didominasi wilayah perairan. Kondisi tersebut membuat pemerataan infrastruktur listrik membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, Pertamina, dan pihak terkait.
Tokoh masyarakat Pulau Sembur, Gajaman, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah memilih pulau tempat tinggalnya. Karena warga telah lama menghadapi keterbatasan listrik.
Ia bercerita sejak kecil, ia melihat masyarakat hanya mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan penerangan. Warga kemudian mengoperasikan genset secara bersama-sama sejak sekitar 2001 dengan sistem iuran.
“Pokoknya dari jam 6 sampai jam 11 itu Rp5.000 per rumah. Itu untuk BBM nya,” ujarnya.
Kini, kehadiran PLTS membuat warga dapat menikmati listrik sepanjang hari. Anak-anak bisa belajar dan mengaji pada malam hari tanpa bergantung pada waktu operasi genset.
“Alhamdulillah, anak-anak kami bisa mengerjakan PR malam hari, bisa mengaji malam. Dengan adanya program Pertamina ini cukup membantu masyarakat,” ucap Gajaman dengan wajah berseri.
Ia juga mewakafkan lahan keluarganya untuk pembangunan PLTS tersebut. Gajaman berharap manfaat proyek itu terus dirasakan masyarakat sekaligus menjadi amal bagi orang tuanya. Baginya, kehidupan masyarakat di pesisir membutuhkan uluran bantuan dari pemerintah.
“Kami sangat senang sudah listrik di sini yang nantinya menerangi pulau Sembur selama 24 jam,” ucapnya lagi.
Di Batam, selain PLTS Pulau Sembur, terdapat PLTS Tembesi berkapasitas 46 MWp yang masuk tahap konstruksi.
Sementara itu, PLTS Desa Sembur tercatat memiliki kapasitas sekitar 0,92 MWp dalam daftar proyek tahap awal.
PLTS Pulau Sembur dibangun Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) bersama Kementerian Koperasi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat sekitar 200 kepala keluarga.(hbb)













