Batam, Posmetrobatam.co: Kekayaan alam, budaya Melayu, dan jejak Kesultanan Riau-Lingga menjadi potensi yang terus didorong Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau untuk menggerakkan ekonomi Kabupaten Lingga.
Potensi itu ditelusuri BI Kepri bersama sejumlah wartawan melalui rangkaian Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026, Senin (10/8). Kegiatan tersebut mengangkat potensi wisata, sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif Lingga untuk diperkenalkan lebih luas.
GMP 2026 juga menjadi ruang promosi produk unggulan UMKM Kepri. Untuk Lingga, BI mendorong produk berbasis budaya Melayu, termasuk kriya dan fesyen seperti Tudung Manto, agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Direktur sekaligus Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto P. mengatakan dalam rangka mendukung penyelenggaraan GMP 2026, liputan khusus bersama media dan wartawan di Kabupaten Lingga diharapkan dapat menjadi publikasi yang strategis dengan mendokumentasikan dan mengangkat narasi mengenai keterkaitan antara pelestarian warisan Melayu dan transformasi ekonomi masyarakat.
“Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Rony.
Menurutnya, budaya Melayu memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi jika dikembangkan secara kreatif dan berkelanjutan. Karena itu, BI mendorong pelaku UMKM dan komunitas budaya mengangkat produk lokal sekaligus cerita di baliknya.
Rony menilai budaya tidak hanya menjadi identitas masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber inovasi, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi baru.
Produk UMKM yang telah melalui kurasi dan pendampingan akan dibawa ke GMP 2026. Langkah ini diharapkan membuka akses pasar sekaligus memperluas jejaring usaha hingga tingkat nasional dan global..
Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Telaga Punggur, Batam, sekitar pukul 10.30 WIB. Setelah menempuh perjalanan laut sekitar empat jam, rombongan tiba di Pelabuhan Sei Tenam sekitar pukul 14.30 WIB.
Dari pelabuhan, rombongan menuju Tugu Khatulistiwa di Tanjung Teludas, Desa Mentuda. Jalan yang membelah perbukitan menyuguhkan pepohonan hijau dan gugusan pulau di tengah laut.
Tugu Khatulistiwa menjadi tujuan pertama. Monumen ini menandai garis khatulistiwa sekaligus menawarkan panorama pesisir dan fenomena kulminasi matahari.
Pegawai Dinas Kebudayaan Lingga yang membidangi pelestarian cagar budaya, Lazuardi, mengatakan kawasan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi dan alam.
“Tugu Khatulistiwa adalah salah satu aset pariwisata unggulan yang kami miliki. Selain menjadi titik geografis penting, tempat ini menawarkan pengalaman unik yang tidak bisa ditemukan di banyak tempat,” ujarnya.
Dari Tugu Khatulistiwa, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Resun di kawasan Gunung Sepingkan.
Air terjun tersebut menawarkan air jernih yang mengalir di antara bebatuan dan pepohonan rindang. Masyarakat setempat mengenal Resun memiliki lima hingga tujuh tingkatan.
Lingga juga memiliki Air Terjun Kado, Tanda, dan Jelutung. Untuk mencapai Air Terjun Jelutung, wisatawan harus menggunakan pompong menuju Desa Mentuda sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi.
Dari wisata alam, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Jami Sultan Lingga di Daik. Masjid tua tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan Kesultanan Riau-Lingga.
Masjid yang dahulu dikenal sebagai Masjid Sultan Riayat Syah itu berkaitan erat dengan pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah atau Sultan Mahmud Syah III. Pada 1787, Sultan Mahmud memindahkan pusat pemerintahan kesultanan ke Daik.
Di belakang masjid terdapat kompleks makam Sultan Mahmud Riayat Syah. Tokoh tersebut dikenal gigih mempertahankan kedaulatan dari tekanan Belanda.
Sultan Mahmud memanfaatkan laut sebagai medan gerilya dan gugusan pulau sebagai benteng alami. Pada 1787, kekuatannya bersama sekutu menyerang kedudukan Belanda di Riau hingga memukul mundur pasukan Belanda.
Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Mahmud Riayat Syah pada 2017.
Kini, kompleks makamnya menjadi destinasi wisata sejarah dan religi sekaligus bagian penting dari identitas Lingga sebagai salah satu pusat peradaban Melayu.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa Lingga memiliki modal ekonomi yang beragam, mulai dari pariwisata, budaya, sejarah, kerajinan hingga UMKM.
BI Kepri mendorong potensi tersebut dikelola secara berkelanjutan melalui penguatan promosi, infrastruktur, sumber daya manusia, UMKM, dan pengemasan destinasi.
Melalui GMP 2026, BI Kepri ingin membawa potensi lokal Lingga ke ruang promosi yang lebih luas. Produk UMKM tidak hanya diperkenalkan sebagai barang dagangan, tetapi juga melalui cerita, budaya, dan masyarakat yang melahirkannya.(hbb).
