Batam, Posmetrobatam.co: Bagi Sersan Dua Riski Nasiruddin, latihan jujitsu bukan sekadar belajar bagaimana menjatuhkan lawan. Lebih dari itu. Jujitsu mengajarinya bagaimana berdiri kembali setelah jatuh. Riski adalah prajurit Yonif TP 849/Beladau Sakti. Ia menjadi salah satu dari 20 prajurit terpilih untuk menjalani kaderisasi beladiri jujitsu di Indonesia Spider Jujitsu (ISJ).
Selama dua bulan, ia ditempa di Dojo Kenacha Martial Arts Academy. Di dojo ini ia berproses memahami makna beladiri jujitsu.
Riski lahir di Situbondo, 11 Juli 2003. Sejak kecil, ia menyukai olahraga. Hobi itulah yang membuat tubuhnya cepat akrab dengan latihan jujitsu. Tetapi jujitsu adalah perjalanan yang berbeda. Ada teknik yang harus dipahami.
Ada gerakan yang harus diulang. Ada rasa sakit yang harus diterima. Ada kegagalan yang harus dipelajari.
Hari demi hari, Riski menjalaninya. Tidak selalu mudah. Kadang tubuh terasa berat. Napas terengah. Otot menegang. Tetapi ia tetap datang. Tetap berlatih. Tetap mencoba.
“Capek boleh, menyerah jangan,” ujarnya. Kalimat itu seperti ‘mantra’ yang menahannya agar tidak berhenti.
Bagi seorang prajurit, kemampuan beladiri bukan sekadar urusan olahraga. Ini bagian dari kesiapan.
Seorang prajurit dituntut mampu mengendalikan tubuh, emosi, dan situasi. Dalam kondisi tertentu, kemampuan bertarung jarak dekat dapat menjadi bagian penting dari tugas. Jujitsu memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Jujitsu mengajarkan teknik pengendalian, kuncian, jatuhan, pertahanan, lertarungan jarak dekat. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan membaca situasi.
Jujitsu juga mengajarkan bahwa kekuatan bukan selalu tentang siapa yang paling besar. Teknik, keseimbangan, ketenangan, dan ketepatan mengambil keputusan dapat mengubah keadaan.
Karena itu, latihan jujitsu untuk militer bukan semata-mata mencetak petarung, tapi juga membentuk prajurit yang lebih siap, lebih tenang, lebih percaya diri. Dan lebih siap menghadapi tekanan.
Kerja keras akhirnya menemukan panggungnya. Sabtu, 1 Agustus 2026 di Mall Botania 2, Batam. Riski turun dalam Spider Challenge 2026: Kejuaraan Jujitsu Antar Dojo se-Provinsi Kepulauan Riau.
Ia bertanding membawa nama dirinya. Membawa nama satuan. Dan membawa hasil dari latihan selama berbulan-bulan.
Medali perak yang diraihnya itu punya cerita. Di baliknya ada latihan pagi. Ada latihan malam. Ada keringat. Ada rasa sakit.
Medali itu menjadi tanda bahwa proses tidak pernah benar-benar sia-sia. “Jalani, Nikmati dan Syukuri,” ujarnya. Tiga kata. Namun cukup untuk menggambarkan caranya melangkah.
Ia tidak ingin terlalu sibuk memikirkan seberapa jauh perjalanan yang harus ditempuh. Ia memilih menjalani. Menikmati setiap proses. Lalu mensyukurinya.
Bagi Riski, menjadi juara bukan hanya tentang berdiri paling tinggi di podium. Juara adalah keberanian untuk tetap berlatih ketika tubuh meminta berhenti.
Juara adalah kesediaan menerima kekalahan tanpa kehilangan semangat. Juara adalah kemampuan untuk bangkit.
“Perjalanan ini belum selesai,” ujarnya.
Medali perak di Spider Challenge 2026 mungkin baru satu halaman. Masih ada latihan berikutnya. Masih ada pertandingan berikutnya.
Di atas matras, ia kembali belajar. Jatuh. Bangkit. Berlatih. Mengulanginya lagi. Sebab seorang petarung tidak dibentuk dalam satu malam.(chi)













