ISTRI PAJANGAN Bagian 34: Gagal Mengajukan Berkas Gugatan Cerai

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Semua berkas telah dilengkapi Rihana.
Dia benar-benar berharap semua berjalan sesuai ekspektasinya.

Jam sepuluh pagi. Rihana mondar-mandi di tempat fotocopy. Dengan langkah semangat empat lima, setelah semuanya lengkap, Rihana menuju ke kantor Pengadilan Agama.

Kali ini, dia berusaha pergi sendiri, tanpa ditemani Fitriani.

“Dengan bismillah ya Allah aku memohon mudahkanlah semuanya untuk aku,” Rihana terus berdoa dalam hati.

Setengah jam kemudian mobil Pajero Sport itu parkir di halaman kantor Pengadilan Agama.

Sebelum dia melangkah jauh ke dalam kantor itu, Rihana tarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya ke udara dengan pelan.

Tanpa disadari, Bagas berada di belakangnya. Seketika langkahnya terhenti saat Bagas menarik tangannya dari belakang.

“Tolong Ri. Kita bisa bicarakan baik-baik, semuanya. Kumohon temani aku sampai pemilihan nanti,” pinta Bagas penuh harap.

Sejenak, Rihana hanya diam membisu. Tapi dia ingin memberontak.
“Bukankah aku nggak ada harga dirinya lagi di mata keluarga kamu. Aku cuma istri tak berguna, di mata ibu kamu,” protes Rihana terus terang.

“Ri. Aku nggak mau pisah sama kamu. Kamu itu nggak usah terpengaruh sama ibu aku.” ucap Bagas meyakinkan Rihana.

“Oh ya?!” Rihana semakin emosi mendengar kalimat Bagas. Soalnya, hampir saban hari, hidup Rihana bagai neraka di rumah Bagas. Direndahkan dan tak dianggap sama ibu mertuanya.

“Ri..Kamu boleh pilih villa mana yang kamu suka. Kamu boleh tinggal disana. Kita bangun rumah tangga sendiri Ri,” Bagas berusaha meyakinkan Rihana untuk kesekian kalinya.

Sebenarnya Rihana bosan mendengar tawaran itu. Karena, tawaran itu bukan sesuatu hal yang baru. Tapi lagu lama yang tak pernah diwujudkan Bagas.

Bagas beralasan, villa-villa miliknya sudah ada yang menyewa. Tunggu penyewanya sudah nggak lanjut lagi, baru bisa ditempati.

“Capek Mas, aku harus menunggu berapa lama lagi. Setiap aku minta cerai, itu terus kan alasan kamu. Kamu janji mau ngasih aku villa. Aku nggak berharap harta kamu Mas. Aku lelah terus kamu abaikan. Lebih baik kita pisah baik-baik aja,” kilah Rihana emosi.

Dengan sekuat tenaga, Rihana berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Bagas. Dia pun dengan yakin dan mantap, melangkahkan kakinya menuju ruang kantor Pengadilan Agama.

Bagas terus berlari mengejar Rihana yang nekad mau mengurus perceraiannya itu.

Bagas masih ngotot berusaha menghentikan langkah Rihana.

“Ri. Tolong kali ini, aku memohon ke kamu.” tiba-tiba Bagas bersimpuh di kaki Rihana.

“Tolong Ri..Aku mohon. Pencalonan aku tinggal sebulan lagi Ri. Apapun yang akan terjadi nanti, setelah pencalonan aku, aku menang atau kalah, setelah itu terserah kamu. Kamu mau pergi dari aku atau nggak, itu keputusannya ada di kamu Ri.”

Beberapa pegawai di kantor pengadilan agama itu sejenak tertarik memperhatikan aksi Rihana dan Bagas yang seperti pemeran artis sinetron di televisi.

“Mas. Kamu jangan kayak gini juga. Malu aku dilihat orang-orang di kantor ini,” bisik Rihana dengan bola mata yang membulat.

“Aku nggak peduli Ri. Aku cuma mau kamu batalin niat kamu untuk urus surat perceraian kita. Kumohon batalkan Ri.” desak Bagas masih dengan posisi bersimpuh di kaki Rihana.

Karena Bagas terus memohon, terpaksa, Rihana pun membatalkan niatnya hari itu.

“Aku nggak akan menyerah Mas. Aku harus berusaha lepas dari belenggu tanganmu.” batin Rihana penuh antusias.

Akhirnya Rihana balik kanan, menuju ke parkiran dimana mobilnya terparkir.

Bagas mengikutinya dari belakang. Sebelum Rihana masuk ke mobil, Bagas kembali menahannya.

“Ri. Makasih ya kamu masih mendengarkan permintaan aku.” ucap Bagas lirih. Dia berusaha meraih tangan Rihana, lalu menggenggamnya erat.

“Ri…kalau kamu ada waktu, kita makan siang bareng yuk,” ajak Bagas serius.

Rihana diam tak meresponnya.
“Sebentar aja Ri, aku lapar Ri.” Bagas lagi-lagi meminta dengan paksa waktu Rihana.

Untuk kali ini, Rihana berusaha berdamai dengan Bagas. Dia pun bersedia menerima ajakan Bagas. Bagas mengajak Rihana satu mobil dengan mobil Bagas.

Tapi, sesuatu tak terduga, terjadi saat itu. Bagas tiba-tiba membelokkan mobilnya ke rumah makan Padang langganan Rihana. Rumah makan tempat Rihana menunggu kedatangan Cahyo.

“Mas. Aku kurang suka makan disini. Sambalnya tak enak.” ucap Rihana, beralasan.

Di menyapukan pandangan di area parkiran. Ada mobil Cahyo terparkir disana.

“Kenapa kamu terlihat pucat?!” Bagas sengaja ingin melihat respon Rihana saat Rihana diajak ke rumah makan Padang itu.

“Mas kita cari makan di tempat lain gimana?” Rihana masih terus berusaha mencari alasan, supaya Bagas pindah ke rumah makan lain.

Bagas sendiri sebenarnya sudah tahu hubungan rahasia antara Rihana dan Cahyo.

Bagas masih belum cukup bukti untuk membongkar permainan Rihana di belakangnya.

Bagas sadar, karena Bagas juga selama ini cuek sama Rihana.

“Disini aja..Aku mau makan balado jengkol. Kata kawan aku, enak banget,” kata Bagas yang bersikukuh tetap ingin makan di rumah makan langganan Rihana.

“Kacau kalau sampai Cahyo tahu aku lagi sama Bagas.” pikir Rihana sedikit panik.

“Mas, aku tunggu di mobil aja karena tiba-tiba aku nggak selera makan.” kata Rihana yang masih berbohong ke Bagas.

“Baiklah. Kalau begitu kita cari rumah makan yang buat kamu selera makan ya.” Bagas akhirnya mengalah.

Rihana menarik nafas lega. Akhirnya dia bisa selamat.

Bagas melirik ke arah Rihana. Dia tahu istrinya itu bahagia, setelah nggak jadi makan di rumah makan itu.

“Kamu takut kan Ri, kalau kamu ketemu sama Cahyo pacar kamu,” kata Bagas membatin dalam hati.

Bagas sendiri juga belum berniat membongkar perselingkuhan Rihana dengan Cahyo.

“Sabar ya Bagas. Belum saatnya kamu membongkar semuanya. Tunggu kamu menang di pemilihan umum ini ya Bagas. Kalau kamu menang, hancurkan saja Rihana.” kata Bagas dalam hatinya yang sedang menyimpan dendam terselubung pada Rihana.


Pagi ini waktu masih menunjukkan pukul 08.00 wib. Rihana bersiap keluar.

Sang ibu mertua langsung kepo. Kata dia, sebagai istri idaman, seharusnya pekerjaan istri pagi-pagi itu, membereskan rumah, memasak untuk suami dan keluarga tercinta.

Tapi, Rihana justru cuek. Baginya, saat ini yang terpenting adalah mengurus berkas perceraian, sampai tuntas.

Tanpa sepengetahuan Rihana, Fatimah sang mertua cerewet itu langsung memberitahukan hal itu ke Bagas.

“Gas. Istri kamu ini memang tak berguna. Pagi-pagi sudah kelayapan. Bukannya urus rumah dan masak buat keluarga, malah mau keluyuran pagi-pagi.” Fatimah mengirim itu ke Bagas.

Bagas langsung bisa membaca kemana arah dan tujuan Rihana pagi itu.

Bagas akhirnya buru-buru ke kantor pengadilan agama, demi
memata-matai Rihana.

Janji ketemu konstituen di hari itu pun dicancel Bagas.

Bagas benar-benar dibuat tak tenang dengan rencana Rihana ingin berpisah darinya.

“Aku harus ambil keputusan. Villa di Bogor itu akan aku serahkan ke Rihana.” kata Bagas bertekad dalam hati.

Tapi dengan syarat sampai proses pemenangan pemilu. Kalau Bagas kalah, villa itu akan diambil balik.

Bersama pengacaranya, Bagas menyusun rencana itu. Rihana hanya akan menempati villa itu selama menuju proses pemenangan pemilu.(*)

Exit mobile version