Gubernur Ansar Dorong Percepatan Digitalisasi Daerah di Kepulauan Riau

90
Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad memimpin High Level Meeting (HLM) Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah bersama para Bupati dan Wali Kota se-Provinsi Kepulauan Riau di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Selasa (14/4).

Tanjungpinang, posmetrobatam.co: Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad memimpin High Level Meeting (HLM) Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah bersama para Bupati dan Wali Kota se-Provinsi Kepulauan Riau di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Selasa (14/4).

Rapat ini turut dihadiri secara langsung maupun virtual oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kepulauan Riau Rony Widijarto, Asisten Direktur BI Kepri Husni Mapain, Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza, serta perwakilan kepala daerah dan perbankan.

Dalam paparannya, Kepala KPw BI Kepri Rony Widijarto menyampaikan bahwa akseptasi penggunaan QRIS di Kepulauan Riau terus menunjukkan tren pertumbuhan positif.

Hal ini tercermin dari peningkatan volume dan nominal transaksi, serta jumlah pengguna dan merchant dari tahun ke tahun.

“Akseptasi QRIS menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan, baik dari sisi volume, nominal transaksi, maupun jumlah pengguna dan merchant, baik secara nasional maupun di Kepulauan Riau,” kata Rony.

Selain itu, implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) terus diperkuat melalui perluasan kanal pembayaran digital, peningkatan infrastruktur, serta sinergi antara pemerintah daerah dan perbankan.

BACA JUGA:  Pemprov Kepri Pakai Dana BTT Rp5 Miliar untuk Atasi TBC

“Upaya ini dinilai berkontribusi dalam meningkatkan transparansi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten Direktur BI Kepri Husni Mapain menjelaskan bahwa penilaian indeks ETPD dipengaruhi oleh tiga aspek utama, yakni implementasi, realisasi, dan lingkungan strategis.

Ketiga aspek tersebut menjadi faktor penentu capaian digitalisasi di daerah, sekaligus menggambarkan sejauh mana pemerintah daerah mampu mengoptimalkan transaksi non-tunai.

“Penilaian indeks ETPD ini mencakup tiga aspek utama, yaitu implementasi, realisasi, dan lingkungan strategis, yang menjadi indikator penting dalam mengukur capaian digitalisasi di daerah,” jelas Husni.

Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian wilayah di Kepulauan Riau mengalami penurunan skor indeks pada tahun 2025, terutama pada aspek realisasi. Hal ini disebabkan belum optimalnya pemanfaatan kanal pembayaran digital meskipun infrastruktur telah tersedia.

“Penurunan ini terjadi karena pemanfaatan kanal pembayaran digital belum maksimal, meskipun dari sisi infrastruktur sebenarnya sudah cukup memadai,” tambahnya.

BACA JUGA:  Resmikan Gedung Pertemuan di Pamak, Gubernur Ansar: "Ini Hadiah untuk Warga Kecamatan Tebing"

Ia juga menjelaskan bahwa dalam penilaian Championship TP2DD se-Sumatera tahun 2025, indikator yang digunakan meliputi aspek proses sebesar 20 persen, aspek output 50 persen, dan aspek outcome 30 persen.

Penilaian tersebut bertujuan untuk mengukur kinerja pemerintah daerah dalam mengimplementasikan digitalisasi transaksi secara menyeluruh.

“Komposisi penilaian ini terdiri dari aspek proses 20 persen, output 50 persen, dan outcome 30 persen, yang digunakan untuk melihat kinerja implementasi digitalisasi secara komprehensif,” ungkapnya.

Evaluasi heatmap TP2DD Kepulauan Riau tahun 2025 juga menunjukkan masih adanya indikator yang perlu diperkuat, di antaranya pelaksanaan High Level Meeting, koordinasi pusat dan daerah, peningkatan literasi masyarakat, serta optimalisasi transaksi non-tunai pada pajak dan retribusi daerah.

Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad dalam arahannya menyoroti adanya fenomena paradoks dalam capaian pembangunan daerah.

BACA JUGA:  Polisi Laut Singapura Diduga Ancam Keselamatan Nelayan Belakangpadang, Besok HNSI Kepri Gelar Protes di Konsulat

Menurutnya, meskipun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri tergolong tinggi, namun indeks digitalisasi daerah masih menunjukkan fluktuasi.

“Kalau kita lihat dari data-data capaian, baik yang meningkat maupun yang menurun, ada semacam paradoks di Kepri ini. Di satu sisi IPM kita sangat tinggi, tetapi indeks digitalisasi daerah masih fluktuatif,” ujar Ansar.

Ansar menegaskan pentingnya melakukan kajian mendalam terhadap setiap aspek penilaian agar dapat diketahui titik lemah yang perlu diperbaiki.

“Kalau dilihat dari data, ini bisa kita kaji pada setiap aspek yang menjadi indikator penilaian. Di situlah kita bisa menentukan langkah konkret untuk memperbaiki capaian ke depan,” jelasnya.

Gubernur Ansar juga menekankan perlunya konsistensi dalam pelaksanaan High Level Meeting sebagai upaya percepatan digitalisasi daerah.

“Kita akan melaksanakan High Level Meeting ini secara rutin, minimal satu bulan sekali, untuk melihat perkembangan dan percepatan indeks digitalisasi daerah di Kepulauan Riau,” tegas Ansar. (*/pemprovkepri/Ky)