Batam, Posmetrobatam.co: Inflasi di Kepulauan Riau (Kepri) sepanjang Desember 2025 tercatat tetap terjaga dalam rentang sasaran, meski mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri mencatat inflasi bulanan (mtm) sebesar 1,14%, naik dibanding November yang sebesar 0,23%. Secara tahunan (yoy), inflasi Kepri mencapai 3,47%, meningkat dari 3,00% pada bulan sebelumnya.
Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Indonesia, Ardhienus, menegaskan bahwa inflasi di tiga kabupaten/kota IHK Kepri, yakni Batam, Tanjungpinang, dan Karimun, masih terkendali.
“Inflasi bulanan masing-masing tercatat 1,14% di Batam, 1,28% di Tanjungpinang, dan 0,92% di Karimun, sementara inflasi tahunan berada pada kisaran 2,72%–3,68%. Hal ini menunjukkan inflasi Kepri sepanjang 2025 tetap berada dalam rentang sasaran,” ujar Ardhienus.
Menurut Ardhienus, inflasi bulan Desember terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 2,91% (mtm) dengan andil 0,85%.
“Kenaikan ini utamanya karena harga cabai rawit, daging ayam ras, dan cabai merah yang terdampak terbatasnya pasokan akibat bencana hidrometeorologi di sentra penghasil pangan Sumatera bagian utara, bersamaan dengan meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru,” jelasnya.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 1,63% (mtm) dengan andil 0,12%, terutama karena kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian geopolitik global. Kelompok transportasi juga mengalami inflasi 1,13% (mtm) dengan andil 0,16%, terdorong mobilitas masyarakat dan pelaksanaan MICE, meskipun sebagian teredam oleh periode diskon transportasi.
Ardhienus menekankan bahwa terkendalinya inflasi di Kepri tidak lepas dari koordinasi erat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“Bank Indonesia secara konsisten bersinergi dengan TPID se-Kepri melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif,” jelasnya.
Beberapa langkah yang telah dilakukan pada Desember 2025 antara lain High Level Meeting TPID di Batam, Karimun, dan Bintan; publikasi iklan layanan masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi; edukasi publik; serta operasi pasar atau pasar murah.
Melangkah ke Januari 2026, Ardhienus mengingatkan sejumlah potensi pendorong inflasi, termasuk tren kenaikan harga emas dunia yang masih berlangsung dan normalisasi tarif angkutan laut pasca diskon transportasi. Sementara faktor penahan inflasi mencakup normalisasi permintaan pangan pasca perayaan Nataru dan penurunan harga BBM non-subsidi per 1 Januari 2026.
“Ke depan, BI bersama TPID akan terus memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas harga. Upaya peningkatan produksi pangan, pasar murah, penguatan KAD, serta koordinasi pengendalian inflasi diharapkan dapat menjaga inflasi Kepri 2026 tetap terkendali di rentang sasaran 2,5% ± 1%,” pungkas Ardhienus.(hbb)









