Dorong Kolaborasi Tingkatkan Budaya Literasi Masyarakat

51

Batam, Posmetrobatam.co: Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batam, Herman Rozie, mengajak seluruh elemen masyarakat berkolaborasi meningkatkan budaya literasi. Ajakan itu disampaikan menyusul masih rendahnya minat baca pelajar di Batam di tengah meningkatnya konsumsi konten digital.

Menurut Herman, upaya meningkatkan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau perpustakaan. Setiap elemen masyarakat memiliki peran sesuai kapasitasnya masing-masing.

“Untuk meningkatkan literasi di Kota Batam maupun Kepri harus ada kerja sama yang kolaboratif. Tidak semua pencinta buku bisa menyediakan buku atau fasilitas literasi, tetapi setiap pihak bisa berkontribusi sesuai kemampuannya,” ujar Herman, Kamis (4/6).

Ia mencontohkan dukungan Bank Indonesia (BI) Kepri melalui program literasi dan kegiatan bedah buku yang melibatkan masyarakat serta komunitas literasi.

“Hari ini BI menunjukkan dukungannya melalui kegiatan bedah buku dan berbagai program literasi. Ini menjadi salah satu cara menumbuhkan minat baca di masyarakat,” katanya.

BACA JUGA:  Konferensi Kota VIII PGRI Batam, Amsakar: Daya Saing Batam Bergantung pada Guru

Herman menilai media massa, komunitas, lembaga pendidikan, dan dunia usaha memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun budaya membaca. Tanpa kolaborasi tersebut, peningkatan indeks pembangunan literasi masyarakat akan sulit tercapai.

Menurutnya, Batam yang dikenal sebagai kota industri dan kota digital seharusnya mampu memiliki tingkat literasi yang lebih baik.

“Batam dekat dengan negara maju dan sudah lama dikenal sebagai kota digital. Tetapi pertanyaannya, di mana literasi digital kita? Karena itu perlu dukungan semua pihak, termasuk perusahaan yang dapat membantu penyediaan sarana dan fasilitas literasi,” ujarnya.

Herman juga menyoroti kecenderungan pelajar yang lebih tertarik menonton konten digital dibanding membaca buku. Karena itu, perpustakaan harus bertransformasi menjadi ruang yang nyaman, menarik, dan sesuai perkembangan zaman.

BACA JUGA:  Pengurus BMKJ Kepri Periode 2026 - 2030 Resmi Dilantik: Wujudkan Kebersamaan dan Kekompakan

“Kalau perpustakaan tidak menarik, jangankan anak-anak, orang dewasa pun enggan datang. Karena itu fasilitas harus diperbaiki, koleksi buku diperbarui, dan ruang perpustakaan dibuat lebih nyaman,” katanya.

Meski demikian, Herman menegaskan teknologi bukan ancaman bagi literasi. Buku digital, e-book, dan berbagai platform digital justru dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.

“Sekarang anak-anak sudah akrab dengan handphone. Maka yang perlu dilakukan adalah menghadirkan konten yang menarik dan edukatif di platform digital,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya literasi untuk menangkal penyebaran hoaks di media sosial. Menurutnya, kebiasaan membaca akan membuat masyarakat lebih kritis dalam menerima dan memverifikasi informasi.

“Membaca bukan hanya soal buku, tetapi kemampuan mencari, membandingkan, memverifikasi, dan memahami informasi yang diterima,” katanya.

Sebagai upaya meningkatkan minat baca sejak dini, Dinas Perpustakaan Kota Batam terus menjalankan program perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah dasar dan menengah.

BACA JUGA:  Begini Caranya Jika Ingin Mendapatkan Malam Lailatul Qadar

“Kami mendatangi sekolah-sekolah melalui perpustakaan keliling agar anak-anak mengenal perpustakaan sejak dini dan tumbuh kecintaannya terhadap kegiatan membaca,” imbuh Herman.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepri, Moh. Bisri, menilai rendahnya tingkat literasi masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Meski akses terhadap buku dan perpustakaan semakin terbuka, minat baca belum menunjukkan peningkatan signifikan.

“Kita harus melihat, di perpustakaan tersedia, buku juga banyak, tetapi minat membaca masih rendah. Ini menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah untuk membangun kembali kecintaan terhadap buku,” ucapnya.

Bisri mendorong masyarakat memulai budaya membaca dari lingkungan keluarga, seperti menyediakan pojok baca di rumah dan membiasakan anak berinteraksi dengan buku sejak usia dini.(hbb)