Bintan, Posmetrobatam.co: Perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang dihadapi masyarakat di pulau kecil, terutama terkait ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan keluarga.
Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang melaksanakan Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Pulau Dendun, Kabupaten Bintan.

Program ini diinisiasi Dr. Indra Martias, MPH; Rinaldi Daswito, MPH; Luh Pitriyanti, M.Kes dan Vina Jayanti MKM . Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui penerapan teknologi tepatguna yang memanfaatkan sumberdaya lokal dan energi terbarukan.
Kegiatan ini melibatkan pemerintah Kecamatan Mantang yang diwakili oleh SamsuHilal, SH dan pemerintah Desa Dendun, serta masyarakat setempat.

Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan pada Kamis, (14/5) dengan penerapan inovasi berupa pembangunan sistem Penampungan Air Hujan (PAH) yang dilengkapi teknologi filtrasi sederhana dan didukung energi surya.
Air hujan yang ditampung dan disaring diharapkan menjadi sumber cadangan air bersih bagi masyarakat saat musim kemarau atau ketika pasokan air terbatas.
Pulau Dendum memiliki keterbatasan air bersih, dimana sebagian besar sumur yang dimiliki masyarakat memiliki tingkat salinitas yang tinggi.
Selainitu, tim pengabdian juga membangun instalasi hidroponik rumah tangga bersumber air hujan yang memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sarana produksi pangan keluarga.
Sistem hidroponik tersebut menggunakan pompa air yang memperoleh energi dari panel surya, sehingga operasi onalnya lebih ramah lingkungan dan hemat energi.
“Harapannya, teknologi sederhana ini bisa membantu warga di pulau dalam menghadapi krisis air bersih,” ujar ketua Pengabdian Masyarakat Dr. Indra Martias, SKM, MPH beserta tim.
Kepala Desa Dendum Eva Riana, SH mengaku terbantu dengan adanya program ini.
“Kedepannya kami bisa panen sayur sendiri dengan adanya tanaman hidroponik dan penampung air hujan. Terimakasih kepada Tim Dosen Poltekkes Tanjungpinang khususnya Prodi Sanitasi yang telah menginisiasi kegiatanini,” tuturnya.
Selain menghasilkan sarana fisik berupa PAH, panel surya, dan instalasi hidroponik, kegiatanini juga menjadi media transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Kedepan, model pemberdayaan berbasis energi terbarukan dan ketahanan pangan ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi wilayah pulau kecil lainnya di Provinsi Kepulauan Riau dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri, sehat, dan tangguh menghadapi perubahan iklim.(*)









