Batam, Posmetrobatam.co: Pengobatan tuberkulosis (TBC) hingga sembuh capai 95 persen penderita di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Capaian ini termasuk tertinggi secara nasional.
“Kalau perkara mengobati TBC di Kepri sudah sangat baik, patut kita apresiasi,” kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Octavianus saat memaparkan penanganan kasus TBC di Aula Wan Seri Beni, Kota Tanjungpinang, Kepri, Jumat (11/9).
Meski demikian, kata dia, penanganan kasus TBC tidak cukup dengan pengobatan semata, namun harus dibereskan dari hulu yang dimulai dengan menemukan orang sakit TBC agar bisa segera diobati sebelum kondisinya semakin parah.
Ia menyoroti Kepri menjadi salah satu provinsi yang menemukan kasus TBC paling rendah secara nasional, karena dihadapkan dengan tantangan geografis daerah kepulauan ditambah biaya operasional yang mahal.
Menurut dia dari total 13.731 ribu kasus TBC di Kepri, baru 6.618 kasus (51,2 persen) berhasil diobati, sementara 6.832 kasus (49,8 persen) lainnya belum terdeteksi atau diobati, sehingga berpotensi menularkan TBC satu sama lain.
“Makanya, kasus TBC di Indonesia sulit turun karena tak diobati. TBC bisa menyebabkan kematian jika tak ditangani dengan tepat dan tuntas,” ujar dia.
Wamenkes menekankan perlunya strategi khusus untuk menemukan kasus TBC di Kepri yang didominasi wilayah kepulauan tersebut, salah satunya dengan mengintegrasikan layanan cek kesehatan gratis (CKG) dengan penelusuran penyakit TBC menggunakan X-Ray.
Selain itu, ia turut mendorong dinas kesehatan bersama semua stakeholder terkait termasuk kader TBC mengintensifkan pemeriksaan kontak serumah (keluarga) dengan penderita TBC.
“Kita jangan cuma sibuk obati orang sakit TBC, tapi orang kontak serumah tidak diperiksa,” ucapnya.
“Saya minta Camat, Lurah, PKK dan kader juga aktif memantau orang sakit TBC. Kalau sudah ditemukan, berikan obat TBC sampai ia sembuh total,” tandasnya.(ant)













