Warga Pulau Kasu dan Tanjung Riau Datangi Kantor LIRA Kepri, Tuntut Klarifikasi Pernyataan Soal Proyek Siluman

185

BATAM, PM: Sejumlah warga Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, bersama masyarakat Tanjung Riau mendatangi Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau di kawasan Ruko Batam Centre, Senin (15/6).

Kedatangan massa tersebut merupakan bentuk protes terhadap pernyataan Gubernur LIRA Kepri, Yusril Koto, yang sebelumnya menyebut adanya dugaan “proyek siluman” di Pulau Kasu. Pernyataan itu dinilai telah menyudutkan dan mencoreng nama baik masyarakat pulau-pulau di wilayah hinterland Kota Batam.

Dalam aksi tersebut, perwakilan warga yang bertindak sebagai orator menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka meminta aparat kepolisian mengusut dugaan pelanggaran hukum terkait pernyataan yang disebarkan melalui media sosial dan dianggap merugikan masyarakat pulau.

BACA JUGA:  Desain Karya Andi Andri Agassi Terpilih Jadi Logo Hari Jadi ke-21 Provinsi Kepri

“Kami meminta pihak kepolisian mengusut tuntas dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kami juga meminta Yusril Koto menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat pulau dan Kota Batam melalui media sosial maupun media massa,” ujar salah seorang orator.

Selain itu, massa juga mendesak pimpinan LIRA Pusat untuk mencopot Yusril Koto dari jabatannya sebagai Gubernur LIRA Kepri. Menurut mereka, pernyataan yang disampaikan telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Warga juga meminta yang bersangkutan untuk tidak mengadu domba, masyarakat meminta Yusril Koto diusir dari Kota Batam

Aksi sempat berlangsung panas karena tidak ada perwakilan LIRA Kepri yang menemui massa untuk memberikan penjelasan. Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga yang telah datang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

BACA JUGA:  SAH, APBD Kabupaten Natuna Tahun 2024 Rp1,181 Triliun

Dalam orasinya, warga menegaskan bahwa masyarakat pulau tidak terima jika wilayah mereka diberi stigma negatif tanpa dasar yang jelas.

“Kami bukan warga siluman. Kami anak pulau, tidak pernah mengganggu orang. Kenapa kami yang diganggu?” teriak salah seorang orator yang disambut sorakan peserta aksi.

Warga meminta perwakilan LIRA Kepri menjumpai massa yang datang

Meski berlangsung dengan tensi tinggi, aksi akhirnya tetap berjalan kondusif. Massa yang membawa berbagai spanduk dan poster menegaskan bahwa masyarakat Batam, khususnya warga pulau-pulau penyangga, menginginkan penyelesaian persoalan tersebut secara damai dan terbuka.
Sejumlah polisi bersiaga di depan kantor LIRA Kepri. (hbb)