Kisah Iswandi Penderita Kanker Tulang di Bintan, Terbaring di Kamar tak Punya Biaya Berobat

82

Bintan, Posmetrobatam.co: Iswandi (26) tampak berbaring di kamar rumahnya, Kampung Sialang, RT 07, RW 04 Nomor 15, Dusun II Desa Berakit, Kecamatan Telok Sebong, Kabupaten Bintan, Kamis (21/5) pukul 11.30 WIB.

Di kamar kecil rumah sederhana itu, Iswandi berbaring tak berdaya, dengan tubuhnya yang diganjal beberapa bantal dan guling.

Sebuah TV model lama, yang selalu dinyalakan itu, diletakkan persis di depan ranjang Iswandi terbaring.

Sepertinya benda elektronik itu jadi teman setianya mengisi hari-hari.

Meski demikian, bukan berarti di rumah itu Iswandi hidup seorang diri. Dia masih punya bapak dan juga saudara-saudara lainnya. Tapi, mereka semua punya kesibukan masing-masing.

Kisah ini diceritakan Ronny pada Posmetro, Kamis (21/5) di tempat kerjanya yang tak jauh dari rumah.

Diceritakan Ronny, ia adalah anak pertama. Sedangkan Iswandi adalah anak ketiga.

Kepada Ronny, Iswandi merasa lebih nyaman, menggantungkan segalanya.
“Saban hari, saya yang merawatnya. Karena, dia merasa nyamannya sama saya,” tutur Ronny.

“Pagi, sebelum berangkat kerja, saya siapkan keperluan dia. Makannya, minumnya dan lain-lainnya. Jadi, kalau semua sudah beres, saya berangkat kerja. Sekitar jam 10.00 WIB,” ucap Ronny.

BACA JUGA:  Pekan Expo Desa Air Lengit Untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

Kalau untuk makan, Iswandi tidak pilih-pilih. Kecuali, telor, Iswandi pasti menolak.
“Katanya kalau makan telor dia takut gatal,” katanya.

Ditanya soal penyakit kanker tulang yang menyerang adik lelakinya itu, Ronny tak tahu persis apa penyebab utamanya sampai sang adik menderita seperti sekarang ini.

Masih menurut Ronny, pembengkakan yang besarnya nyaris seperti bola volly, yang bersarang di lutut kanan hingga ke pangkal pahanya itu, terjadi sejak setahun.

Dulu, kata Ronny yang masih mencoba mengulik kisah hidup adiknya itu. Sekitar dua tahun yang lalu, Iswandi sempat ikut proyek memperbaiki jalanan aspal yang lokasinya persis berada di depan rumahnya.

Ketika proyek itu hampir selesai, Iswandi tertimpa pohon kelapa yang tingginya sekitar 4 hingga 5 meter. Pohon kelapa itu menimpa pundak kanannya.

Atas insiden itu, Iswandi dilarikan ke rumah sakit terdekat. Hasil diagnosa dokter, Iswandi tak mengalami kejadian fatal. Hanya ada luka lecet di pundaknya.

Namun, sebulan setelah kejadian itu, adik lelakinya itu mengeluh lututnya ngilu. Seseorang menyarankan dia ke shinse dan juga ke tukang urut.

Tapi, tetap saja Iswandi mengaku lututnya itu masih sakit. Keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit lagi. Hasil diagnosa dokter, Iswandi dinyatakan menderita sakit kanker tulang. Iswandi pun dirujuk berobat ke rumah sakit di Jakarta. Sekitar dua bulan, Iswandi dirawat di rumah sakit di Jakarta.

BACA JUGA:  Upacara Bendera, Sarana Pembinaan Disiplin, Loyalitas dan Semangat Pengabdian Prajurit TNI AU

Hingga keputusan mengerikan itu disampaikan oleh dokter. Kaki Iswandi harus diamputasi.

Dengan berat hati, Iswandi menolak. Dia ingin berobat dengan obat-obatan herbal saja. Ditambah lagi, biaya hidup keluarga saat mendampimgi Iswandi di Jakarta semakin hari semakin menipis, akhirnya Iswandi memaksa minta pulang.

Padahal, Ronny dan keluarga berharap Iswandi bersedia mengikuti saran dokter. Tapi, sekali lagi Iswandi menolak keras.

“Saya sudah bujuk dia. Tapi adik saya itu benar-benar nggak mau kalau diamputasi. Akhirnya kita balik ke rumah. Waktu itu kondisi lututnya belum bengkak seperti sekarang. Bengkaknya masih kecil,” jelas Ronny, dengan nada sedih.

“Sudah setahun belakangan ini, bengkak di lututnya itu semakin membesar,” imbuhnya.

Masih menurut Ronny, saat ini, adiknya itu hanya bisa pasrah. Untuk berobat lagi ke rumah sakit pun, rasanya tidak memungkin. Sebab, kata Ronny, untuk bergerak menuju kamar mandi pun sangat kesulitan.

BACA JUGA:  Mempelajari Nilai-nilai Budaya, Agama dan Adat di Museum Raja Ali Haji Batam

“Iswandi suka sesak nafas ketika harus bergerak ke kamar mandi. Ditambah lagi soal biaya. Jujur kami nggak sanggup dan nggak punya biaya,” ucap Ronny sedih.

Begitu juga Iswandi, yang sempat menerima kedatangan Posmetro,  mengaku pasrah dengan kondisinya saat ini.

Ditanya soal keinginannya berobat lagi ke rumah sakit, Iswandi pesimis. Katanya, dirinya tidak mungkin berobat lagi ke rumah sakit. Karena tak punya biaya.
Kalau pun mengandalkan penghasilan dari gaji abangnya, rasanya tidak mungkin juga.

“Hidup kami pas-pasan. Kalau pun mau pakai uang gaji abang, rasanya nggak mungkin. Karena dapat hari ini, pasti habis hari ini juga buat makan keluarga. Tapi alhamdulillah ada saja yang memberikan bantuan, berupa makanan dan juga sembako. Itu saja kami sudah alhamdul
lillah,” ungkap Iswandi di kamarnya, dengan posisi berusaha duduk di tempat tidurnya itu.

Terakhir, dengan berat hati Iswandi menolak ketika disinggung soal penawaran berobat ke Rumah Sakit RSPAD Jakarta.

“Kalau berobat ke Jakarta, rasanya nggak mungkin lagi dengan kondisi fisik yang drop seperti ini,” pungkas Iswandi sedih.(aiq)