Kepri, Posmetrobatam.co: Wisatawan mancanegara (wisman) asal Singapura yang datang harian secara berulang, menjadi kekuatan pariwisata di Kota Batam. Meski hanya belanja kebutuhan pokok atau sembako dan ‘balik hari’.
Kepala Dispar Kepri, Hasan mengatakan, fenomena wisatawan harian atau ‘day trippers’, terutama dari Singapura, justru menjadi karakter pasar tersendiri bagi Batam.
“Memang banyak wisatawan harian, terutama dari Singapura. Mereka datang hanya untuk makan, belanja kebutuhan pokok, lalu kembali di hari yang sama,” katanya, Rabu (22/4).
“Walaupun sebentar tapi frekuensinya tinggi, dalam sebulan orang yang sama bisa empat sampai lima kali datang ke Batam,” tambahnya.
Menurutnya, pola kunjungan seperti ini menunjukkan bahwa Batam memiliki daya tarik sebagai destinasi jarak dekat yang praktis dan ekonomis.
Kondisi ini juga dipengaruhi situasi ekonomi di Singapura yang mendorong masyarakatnya mencari alternatif belanja dan rekreasi dengan biaya lebih terjangkau.
“Pasar terdekat seperti Singapura ini yang harus kita manfaatkan. Mereka tidak lama tinggal, tapi kunjungannya berulang. Ini yang justru jadi kekuatan kita,” katanya.
Hasan menjelaskan, tingginya mobilitas wisatawan tersebut tetap memberikan dampak langsung bagi pelaku usaha lokal, terutama di sektor makanan dan minuman.
Menurutnya tiap kunjungan tetap menghasilkan transaksi yang berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat.
“Yang penting ada aktivitas ekonomi. Mereka datang, makan, belanja, itu sudah memberikan dampak. Jadi tidak selalu harus menginap untuk memberi kontribusi,” ujarnya.
Ia menambahkan, aktivitas belanja wisatawan memang memiliki keterbatasan, seperti aturan bea cukai yang membatasi barang bawaan hingga 40 kilogram.
Data tahun 2025 menunjukkan, sektor pariwisata Kepri dari aktivitas akomodasi serta makan dan minum mencatat kontribusi sekitar Rp6,9 triliun atau sekitar 1,83 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri.
Meski demikian, Hasan mengakui upaya peningkatan lama tinggal wisatawan tetap perlu dilakukan, terutama dengan menyasar pasar lain yang berpotensi tinggal lebih lama.
“Kalau untuk long stay memang perlu strategi lain, misalnya di Bintan itu durasi kunjungan lebih lama. Tapi untuk Batam, kekuatan kita ada di frekuensi kunjungan itu,” katanya.(ant)









