Lingga, Posmetrobatam.co: Organisasi Perangkat Daerah ( OPD) di tingkat Kecamatan, terutatama di Kecamatan Lingga yang merupakan pusat ibu kota Kabupaten Lingga selain harus lebih maksimal menjalankan tugas fungsinya juga harus lebih berinisiatif dan kreatif.
Tokoh masyarakat Lingga H. Muhammad Ishak kembali memberikan pemikirannya untuk Kabupaten Lingga Bunda Tanah Melayu yang katanya berbudaya.
Dikatakan, pengangkatan ASN untuk ditugaskan sebagai camat, termasuk lurah, dan perangkatannya di Kecamatan Lingga, selain harus memenuhi peryaratan yang telah ditentukan, juga harus diseleksi dengan seksama terutama kompetensi kemanpuan berkomunikasi dan berkoordinasi, peduli dan peka terhadap masalah.
“Ibu kota kabupaten itu wajahnya daerah, selain sebagai pusat pemerintahan juga sebagai pusat sosial budaya, ekonomi dan infrastrutur. Semuanya harus hidup,menggeliat, begerak dan berkembang secara dinamis, walau secara perlahan,” ungkap mantan Camat Lingga, Rabu (15/4).
Menurutnya, camat, lurah dan perangkatnya mesti sumberdaya aparatur yang sedikit lebih unggul, punya daya juang dan kreatif membangun yang kuat serta berkemampuan berkomunikas dan koordinasi serta dekat dengan masyarakat. Apalagi Lingga telah dijuluki sebgai Bunda Tanah Melayu (sejarah awalnya Daik yang dijuluki sebagai Bunda Tanah Melayu pada tahun 1989.
“Tidak bisa semuanya harus dibebankan kepada pimpinan daerah, inisiatif, kreatif dan kepekaaan bawahan juga sangat diperlukan. Apalagi dengan kondisi APBD Lingga saat ini, tentu tidak boleh menyerah pada ‘keadaan” semuanya harus begerak dan memeras pikiran, agar berbagai aktivitas tetap harus bejalan,” ucapnya, juga mantan kepala dinas sambil menyarankan.
Sebelumnya ia mohon maaf karena harus menyampaikan pendapat ini karena ia mengamati, merasakan dan membandingkan perkembangan kondisi Kecamatan Lingga dari tahun ke tahun, termasuk saat kecamatan Lingga sebelum Kabupaten Lingga dibentuk.
Barangkali untuk infrastrukur sudah ada peningkatan tetapi untuk kegiatan yang dimotori camat, lurah dan perangkat, masih perlu sekali ditingkatkan. Padahal berbagai kegiatan perlu dilakukan karena berdampak pada ekonomi masyarakat, budaya dan sebagainya.
“Semua itu sangat tergantung sekali dari aktif tidaknya peran camat dan lurah dalam menggerakkan perangkatnya, termasuk memotivasi RW dan RT-nya,” ujarnya.
Ia membandingkan di masa lalu, kenapa sebelum Kabupaten Lingga terbentuk, berbagai kegiatan dapat dilalukan tanpa sepeserpun didanai APBD? Seperti goro pembukaan jalan Aman Kelang, pembukaan jalan Kado – Mala, Panggak Laut – Nerekeh, goro membngun lapangan bola Sultan Mahmud Riayat Syah.
Tidak hanya itu sambung dia, penamaan jalan dengan mengangkat dan mengabadikan kearifan lokal, pertandingan sepak bola dan rangkaian kegiatan hiburan rakyat dalam rangka HUT Kemerdekaan RI setiap tahun, semaraknya pawai budaya dan tujuh likur, kegiatan hari besar keagamaan dan lain lain dapat dilakukan.
Mewujudkan itu hendaklah ‘beribu akal, tak harus beribu alasan’. Salah satu contoh paling ketara baru baru ini adalah kegiatan tujuh likur bulan Ramadan, bandingkan kegiatan tersebut antara Kecamatan Lingga dan Kecamatan Singkep. Padahal tujuh likur itu sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
Semakin banyaknya kedatangan wisatawan akhir-akhir ini ke Daik, hendaknya Daik tidak saja harus terus menerus dibenah, tapi juga tetap di dirawat dan dipelihara agar roh dan nuansa Bunda Tanah Melayu tetap ada dan masih kental terasa serta yang paling penting bermanfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
“Jadi sangat diperlukan sekali peran aktif dari OPD terkait, dukungan dan peranserta Camat Lingga dan perangkat juga sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan pariwisata yang telah menjadi satu diantara program unggulan daerah, terutama yang berkaitan dgn sapta pesona wisata. Jangan sampai terjadi ‘Indah Kabar Dari Rupa’, yang dapat mengakibatkan dampak yang kurang baik dan membuat wisatawan dan tamu-tamu yang datang merasa ‘sualak’ (jera) datang kembali,” imbuhnya.(*/mrs)









