Bintan, posmetrobatam.co: Di atas lahan seluas sekitar 1,5 hektare, di Kampung Pasiran, Desa Sri Bintan, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, degung lebah terdengar di antara kotak-kotak sarang yang tersusun rapi.
Dari lebah-lebah kecil inilah menghasilkan madu plus cuan. Bukan hanya menjadi produk kesehatan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.
Tempat itu diberi nama Madu Kelanceng Gunung Demit” atau Gudem Bee Farm. Sebuah taman wisata edukasi lebah madu yang kini menjadi salah satu destinasi unik di Bintan. Di balik usaha ini, ada sosok Sertu Meldi Wahyuda, prajurit TNI AU yang bertugas di Satuan Radar 213 Tanjung Pinang, Kepro, yang merintis budidaya lebah hingga berkembang menjadi usaha UMKM.
Meldi memulai budidaya lebah madu pada tahun 2018. Saat itu, ia melihat potensi besar dari usaha yang tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga membantu menjaga kelestarian alam. Menurutnya, budidaya lebah memiliki keunikan tersendiri. Lebah tidak membutuhkan pakan khusus dari manusia karena mereka mencari nektar langsung dari tanaman di alam.
“Budidaya lebah ini sebenarnya sekaligus menjaga alam. Kita hanya perlu menanam tanaman yang menghasilkan nektar. Lebah akan datang sendiri dan membantu proses penyerbukan,” jelas Meldi, kepada Posmetro Batam, Jumat (27/3).
Dari aktivitas budidaya tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi taman edukasi lebah madu. Ide itu semakin kuat saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, ketika permintaan madu murni meningkat tajam.
Melihat peluang tersebut, Meldi bersama pemuda setempat membentuk kelompok Gudem Bee Farm pada Oktober 2020. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi taman wisata edukasi lebah madu pertama di Kabupaten Bintan.
Saat ini Gudem Bee Farm mengembangkan beberapa jenis lebah madu, terutama jenis Trigona yang dikenal menghasilkan madu dengan kandungan propolis tinggi. Tiga jenis utama yang dibudidayakan adalah Trigona itama, Trigona apicalis, dan Trigona canifrons. Selain madu trigona, usaha ini juga mulai mengembangkan produk lain seperti madu melifera, bee pollen, bee bread, honeycomb, hingga sabun madu.
Kata Meldi dalam satu hari, produksi madu bisa mencapai sekitar 200 botol, dengan ukuran antara 300 hingga 435 gram per botol. Keunggulan madu dari Gudem Bee Farm, menurut Meldi, terletak pada kandungan propolis yang berasal dari vegetasi alami Bintan.
“Propolis dari alam Bintan ini berbeda dengan daerah lain. Lebah mengumpulkan getah-getah alami dari tanaman di sekitar sini. Itu yang membuat khasiat madunya juga berbeda,” kata pria kelahiran Lampung 1992 silam.
Selain itu, proses panen madu dilakukan dengan metode khusus agar kualitas madu tetap terjaga. Meldi juga dengan tantangan terbesar yakni cuaca dan peredaran madu palsu di pasaran.
Menurut Meldi, hal ini sering membuat konsumen ragu membeli madu asli karena harga madu murni umumnya lebih tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, Gudem Bee Farm membuka konsep wisata edukasi agar masyarakat bisa melihat langsung proses budidaya lebah.
“Alhamdulillah, pengunjung bisa melihat sendiri bagaimana lebahnya, sarangnya, dan proses panen madunya. Dari situ mereka lebih yakin bahwa madu yang mereka beli benar-benar murni,” jelasnya.
Lalu, bagaimana Meldi menerapkan prinsip ekonomi syariah dalam usahanya. Untuk usaha pemodalan ia berupaya mencari perbankan syariah berdasarkan prinsip Islam, yakni menghindari riba, keadilan, dan transparansi. Begitu juga ia menekankan pentingnya keadilan dalam berusaha serta menghindari keuntungan yang berlebihan. Menurutnya, usaha harus memberi manfaat bagi semua pihak, baik bagi penjual maupun pembeli.
“Ini bukan soal mencari cuan semata. Tapi kita mencari keuntungan tidak terlalu tinggi. Yang penting pembeli merasa untung, kita juga tidak rugi. Jadi usaha ini lebih mengutamakan keberkahan,” bebernya.
Tahun 2023 lalu, Gudem Bee Farm juga menjadi pelaku UMKM binaan Bank Indonesia Kepulauan Riau. Meldi mendapat pendampingan mulai dari pelatihan pemasaran, pengembangan produk, hingga dukungan promosi melalui berbagai kegiatan bazar dan pameran.
“Alhamdulillah, dukungan BI Kepri sungguh luar biasa. Kita diberikan pelatihan pemasaran, kemasan hingga label halal,” ucap Meldi.
Melalui dukungan tersebut, produk madu Gudem Bee Farm kini bahkan kerap dijadikan souvenir khas Kepulauan Riau bagi tamu-tamu daerah. Usaha ini juga memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 15 orang terlibat dalam pengelolaan Gudem Bee Farm, termasuk warga Kampung Pasiran.
Konsep wisata edukasi lebah juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, mulai dari penjualan produk lokal hingga aktivitas wisata. Bagi warga, keberadaan Gudem Bee Farm tidak hanya memberikan penghasilan tambahan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap kampung mereka.
“Dulu tempat ini sepi, sekarang banyak orang datang berkunjung. Masyarakat jadi merasa bangga kampungnya dikenal,” ucapnya.
Perjalanan Gudem Bee Farm juga mendapat berbagai apresiasi. Di antaranya Soedirman Award 2023 dari Panglima TNI serta Juara III Apresiasi Kreasi Indonesia 2024 dari Kementerian Pariwisata.
Ke depan, Meldi berharap Gudem Bee Farm dapat berkembang menjadi pusat edukasi lebah terbesar di Kepri. Bagi Meldi, madu bukan sekadar hasil alam. Di balik setiap tetesnya, ada semangat menjaga lingkungan sekaligus membangun ekonomi masyarakat.
“Harapan saya, usaha ini bisa menjadi contoh bagaimana alam, masyarakat, dan ekonomi syariah bisa berjalan bersama,” pesan anak pertama dari pasangan Legino dan Sriyati
Di Kampung Pasiran, dengung lebah itu kini tidak hanya menandakan kehidupan alam yang terus berjalan. Ia juga menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat yang ingin tumbuh bersama alam. (hbb)









