Batam, posmetrobatam.co: Penetrasi pasar modal di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus melesat dan menunjukkan tren yang semakin kuat. Hingga Desember 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) di Kepri mencapai 483.909 orang, melonjak 38,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Riau, Sinar Danandjaya, menegaskan bahwa lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya minat dan literasi masyarakat terhadap investasi pasar modal.
“Jumlah investor saham di wilayah Kepulauan Riau terus bertambah dari tahun ke tahun. Per Desember 2025, total SID sudah menembus 483.909 orang. Capaian ini menunjukkan kepercayaan dan partisipasi masyarakat terhadap pasar modal semakin kuat,” ujar Sinar Danandjaya saat media gathering dan buka puasa bersama awak media di Kantor Perwakilan OJK Kepri, Selasa (3/3/2026).
Berdasarkan data OJK, dalam tiga tahun terakhir jumlah SID di Kepri terus tumbuh signifikan. Pada 2023, OJK mencatat 308.557 investor. Angka itu naik menjadi 349.666 investor pada 2024, lalu melonjak tajam pada 2025 hingga mencapai 483.909 investor.
Dari sisi sebaran wilayah, Kota Batam mendominasi jumlah investor pasar modal di Kepri dengan 334.801 SID. Angka tersebut jauh melampaui kabupaten dan kota lainnya.
Sementara itu, OJK mencatat jumlah investor di Kota Tanjungpinang sebanyak 60.995 orang, Kabupaten Karimun 39.248 orang, Kabupaten Bintan 25.151 orang, Kabupaten Natuna 9.802 orang, Kabupaten Lingga 8.968 orang, serta Kabupaten Kepulauan Anambas 4.944 orang.
Sinar menilai dominasi Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan industri di Kepri turut mendorong tingginya partisipasi masyarakat dalam investasi pasar modal.
Tak hanya itu, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, sekitar satu dari lima warga Provinsi Kepulauan Riau pada 2025 tercatat telah bertransaksi di pasar modal. Rasio ini menjadi indikator positif yang menunjukkan peningkatan inklusi keuangan di daerah.
Ke depan, OJK Kepri akan terus memperkuat edukasi dan literasi keuangan untuk mendorong pertumbuhan investor yang sehat dan berkelanjutan.
“Kami akan terus memperluas program edukasi, termasuk menyasar generasi muda dan pelaku UMKM. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi investor, tetapi juga memahami risiko serta karakteristik produk pasar modal,” tutup Sinar Danandjaya.(hbb)









