Penutupan Selat Hormuz Imbas Perang Israel-AS Vs Iran, akan Berdampak hingga Jakarta

14

Jakarta, Posmetrobatam.co: Penutupan Selat Hormuz imbas perang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel, disebut Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung akan berdampak secara ekonomi, termasuk bagi Jakarta.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, terletak di antara Oman dan Iran, dan menjadi rute utama perdagangan energi global. Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, sebelum dikirim ke pasar internasional.

“Jika Selat Hormuz ditutup pasti akan berdampak pada supply chain atau rantai pengiriman barang dan barang-barang mengalami kenaikan harga,” kata Pramono saat membuka JIS Ramadan Festival 2026 di Jakarta, Minggu (1/3).

Kendati demikian, Pramono meminta warga Jakarta untuk tidak panik karena yang menjadi perhatian utama pemerintah daerah adalah ketersediaan kebutuhan pokok, terlebih dalam waktu dekat masyarakat akan memasuki Idul Fitri.

BACA JUGA:  Aspirasi Indonesia Perjuangkan Tanggal 15 Maret Jadi Hari Anti Islamophobia

Menurut dia, kebutuhan utama di Jakarta meliputi cabai merah, daging, dan beras. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan stok kebutuhan pokok tersebut dalam kondisi lebih dari cukup.
Khusus untuk komoditas daging, lanjutnya, ketersediaan dan stok masih dalam keadaan aman.

Pemprov DKI juga akan terus memantau perkembangan harga di pasar serta laju inflasi di Jakarta, sehingga langkah antisipatif dapat segera diambil apabila terjadi lonjakan harga.

“Kami pantau di semua pasar utama di Jakarta belum terjadi kenaikan,” kata dia.

Sebelumnya, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, serangan AS-Israel ke Iran yang memicu ledakan besar pada Sabtu (28/2) bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.

BACA JUGA:  XL Axiata dan Kementerian PPPA Berdayakan Warga Binaan di 10 Lapas Perempuan Melalui Program SheInspire

Pada Minggu, Faisal menjelaskan, saat ini harga minyak berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, jika konflik berlanjut, harga bisa naik ke 80 dolar AS per barel.
Lebih jauh, apabila pasokan minyak di Selat Hormuz terganggu, ia mengatakan harga bisa menembus 100 dolar AS per barel.

Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan distribusi di kawasan ini berpotensi mendongkrak harga minyak mentah dunia.

“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” katanya.(ant)