Mendagri Tantang Kabupaten Lebih Kreatif, Potensi Lokal Melimpah Tapi Gagal Dijual

159

APKASI Teken kerjasama dengan IBA

Batam, Posmetrobatam.co: Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian megatakan tantangan kepada pemerintah kabupaten di seluruh Indonesia. Ia menilai daerah sebenarnya memiliki potensi produk dan investasi yang luar biasa dan beraneka ragam, namun lemah dalam promosi, kreativitas, dan keberanian membuka akses pasar global.

Hal itu disampaikan Tito dalam saat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) APKASI dengan International Business Association (IBA), Selasa untuk membuka pusat promosi dan investasi daerah di kawasan strategis Batam.

“Ide membuka pusat promosi ini bagus. Tapi harus keras kerjanya. Indonesia itu negara dengan potensi investasi dan produk yang sangat besar, bahkan paling variatif di dunia. Sayangnya, potensi itu tidak terjual dan tidak terpromosikan dengan baik,” ujar Tito. malam (20/1/26)di kantor PPIB,

Tito membandingkan Indonesia dengan negara lain seperti China dan India. Menurutnya, meski China unggul dari sisi volume dan India dari sisi jumlah produksi, Indonesia unggul dalam keragaman produk, khususnya kerajinan.

“Kerajinan paling variatif di dunia itu Indonesia. Dari Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Papua sampai Maluku. Ragamnya luar biasa. Sayangnya, yang laku justru yang rajin promosi dan punya akses,” ujarnya.

BACA JUGA:  Terkait Insiden di First Club Batam, Manajemen Tegaskan Pengunjung Terlibat Bukan LC

Ia menyoroti ironi banyaknya wisatawan Singapura dan Malaysia yang berbelanja produk Indonesia di Bogor, Bandung, hingga Sarinah, sementara daerah asal produk justru belum mampu menjual langsung ke pasar global.

“Ini potensi besar yang tidak kita kelola serius. Negara lain seperti Vietnam dan Thailand bisa, kenapa kita tidak” ucap Tito.

Di bidang investasi, Mendagri menegaskan bahwa peluang daerah tidak hanya terbatas pada sektor tambang dan perkebunan, tetapi juga hortikultura, pangan, hingga industri kreatif. Ia mencontohkan kebutuhan pangan Singapura yang sangat besar namun terkendala keterbatasan lahan.

“Singapura itu kecil, cuma 5 juta penduduk, tapi daya belinya tinggi. Mereka butuh suplai hortikultura. Ini peluang besar bagi daerah-daerah kita,” jelasnya.
Tito menekankan posisi strategis Batam yang hanya berjarak sekitar 45 menit dari Singapura harus dimanfaatkan sebagai jembatan investasi dan promosi produk daerah.

“Singapura itu hub keuangan dan bisnis global. Jangan kita saingi, tapi manfaatkan ekosistemnya. Tarik investor dan pembeli lewat Batam,” katanya.

Ketua Umum APKASI, Bursah Zarnubi, mengatakan kerja sama dengan IBA merupakan langkah konkret untuk menjawab kelemahan daerah dalam menarik peran swasta.

“Pak Tito sudah sering menegaskan, kelemahan kabupaten adalah lemahnya dukungan swasta. Padahal negara maju itu ditopang swasta yang kuat dan industri berorientasi ekspor. Ini momentum kita,” kata Bursah yang juga Bupati Lahat.

BACA JUGA:  22 Orang Positif Narkoba saat Kampung Aceh - Simpang Dam Digerebek TNI-Polri

Melalui kerja sama ini, sebanyak 150 ruang kantor representatif disiapkan di Batam untuk diisi perwakilan kabupaten. Ruang tersebut akan menjadi “lapak” resmi promosi produk dan investasi daerah yang langsung terhubung dengan jaringan bisnis internasional.

“Nanti kalau ada transaksi atau minat investasi dari luar negeri, pusat informasinya ada di sini. Ini kantor perwakilan kabupaten di Batam,” kata Bupati Lahat Ketua APKASI.

Sementara itu Ketua International Businis Acosation, Shan Shan, menyampaikan harapan besar agar kehadiran PPID menjadi pemicu meningkatnya partisipasi pemerintah daerah dalam ekosistem investasi nasional.

“Kami berharap dengan diresmikannya PPID hari ini, semakin banyak daerah yang bergabung. Ke depan, IBA juga akan secara berkala menyelenggarakan investment forum sebagai ruang temu investor dengan pemerintah daerah,” ujar Shan Shan kepda Mendagri dan Anggota APKASI.

Ia mengungkapkan, bersama Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), IBA saat ini tengah menjalankan tiga program strategis nasional pasca pembangunan gedung PPID. Program-program tersebut dirancang untuk mendukung agenda pembangunan pemerintah pusat dan daerah.

BACA JUGA:  Mubaligh Diberangkatkan untuk Bertugas di Bulan Suci Ramadan 1446 H

Salah satu fokus utama IBA adalah mendukung program Asta Cita Presiden, khususnya target 1 Desa 1 Megawatt serta penguatan kemandirian energi melalui pengadaan pembangkit listrik energi hijau.

“Pada tahap awal, program ini akan menjangkau 150 desa. Investor telah siap menandatangani pembangunan infrastruktur energi surya hingga menghasilkan listrik, dengan skema kerja sama yang saling menguntungkan,” jelasnya.

Selain program energi hijau, IBA juga menyiapkan proyek pembangunan jangka menengah dan panjang berupa Bintang Global Hub, yakni pusat informasi perdagangan, budaya, dan investasi nasional yang akan dibangun di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Menurut Shan Shan, Bintang Global Hub akan difungsikan sebagai pusat informasi investasi daerah bagi 38 provinsi dan 415 kabupaten di seluruh Indonesia, sekaligus menjadi etalase potensi daerah di tingkat nasional dan internasional.

“Untuk itu, kami sangat mengharapkan dukungan dan arahan dari Bapak Menteri Dalam Negeri serta Ketua Umum Apkasi agar seluruh program ini dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi daerah,” tegasnya.

Shan Shan juga berharap Pusat Promosi Investasi Daerah ini sebagai simbol dimulainya penguatan kolaborasi investasi yang lebih terintegrasi. (*/hbb)