Lingga, Posmetrobatam.co: Tokoh masyarakat sekaligus pemerhati Budaya Melayu Kabupaten Lingga H. Muhammad Ishak menyambut baik lokakarya yang di fasilitas Dinas Kebudayaan Lingga oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV dengan mengangkat tema ‘Merawat Warisan, Mengukir Masa Depan’.
Kegiatan dilaksanakan di Gedung LAM Kepri Kabupaten Lingga tersebut pelaksanaannya oleh para penggiat budaya di Lingga seperti Lazuardi, Nuzu Hairu Akbar dan M Fadillah. Dan H. Muhammad Ishak sebagai undangan.
Untuk merawat 70 Warisan Tak Benda Indonesia (WTBI) ataupun WBTB Kabupaten Lingga, menurut mantan Ketua LAM Kepri Kabupaten Lingga ini, selain diperlukan kebijakan nyata Pemda yang peduli terhadap WBTB, juga harus ada peran serta masyarakat, dan tak kalah penting lagi kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
“WBTB yang telah ada memang perlu di lestarikan dan di rawat, selain sebagai salah satu kareakteristik Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu, WBTB juga mengandung nilai-nilai dan filosofi yang banyak makna untuk kebaikan-kebaikan,” ungkapnya, Senin (29/9).
Lanjut tokoh budaya sekaligus mantan Kepala Dinas Kebudayaan ini lagi, untuk itu perlu di inventarisir seluruh WBTB yang ada, baik yang telah menjadi WBTI atupun yang belum.
“Bila WBTB itu di kemas dapat pula menjadi salah satu potensi objek wisata budaya yang sangat menarik, tentunya akan memberi dampak positif bagi ekonomi masyarakat dan daerah,” ucapnya menganjurkan.
Katanya lagi, untuk mendukung upaya merawat WBTB, sebenarnya Pemkab Lingga sudah kuat, karena sudah memiliki Perda, tentang kemajuan kebudayaan darah Bunda Tanah Melayu cuma Perda tersebut belum di jalankan, sebab sampai sekarang ini belum adanya Perbup tentang petunjuk teknis.
Pria yang akrab di sapa Datuk ini juga menyarankan, kuliner yang disajikan harus kuliner yang sudah menjadi WBTI, atau pada setiap kali menyampaikan sambutan, haruslah diawali dan diakhirii dengan pantun, minimal sebait pantun, ataupun tari inai, berandam dan kue pengantin yang sudah menjadi WBTI, tetap ada pada acara adat perkawinan orang Melayu dan lain sebagainya.
“WBTB dan WBTBI juga dapat di ajarkan di sekolah-sekolah melalui muatan lokal, baik tentang cara membuatnya atupun tentang memanfaatkannya serta cara penyediaan kuliner WBTB untuk kegiatan Market Day supaya aturan pelaksanaan dapat berjalan dengan baik dan dipedomani, tentunya juga ada Perda tentang muatan lokal,” paparnya.
Selain untuk merawat agar tetap ada dan lestari, keberadaan WBTI juga harus dapat memberikan manfaat dan hasil bagi masyarakat dan daerah dengan cara di kemas menjadi paket wisata budaya dan even budaya tahunan yang sangat menarik.
Atau kata dia, membuat paket wisata budaya, Adat Perkwinan Bdaya Melayu di Bunda Tanah Melayu setahun sekli. Didalam prosenya sudah ada beberapa WBTI, paket ini dapat dibuat lebih tiga hari.
Pengakuannya,Tahun 2019 Rakornas Kebudayaan di Jakarta, ia pernah mengusulkan kegiatan berskala nasional. WBTI Lingga Kepri untuk Indonesia dan dunia, pada program Indonesiana, kegiatannya meliputi pesta kuliner Warisan Tak Benda di Lingga, sharingnya Kementrian Disbud, Provinsi dan Disbud Lingga.
“Saya tidak tahu kenapa rencana kegiatan itu belum terealisasi sampai sekarang, karena pada tahun 2020 saya sudah mengundurkan diri dari PNS,” ujarnya.
Pada lokakarya yang diselenggarakan baru-baru ini, H. Muhammad Ishak mengusulkan, upaya untuk merawat dan melestarikan warisan, mutlak harus ada kebijakan dan komitmen yang kuat dari ekskutif, yang didukung legislatif dan Lembaga Adat Melayu.
“Rumusan lokakarya harus disusun dengan benar dan hasilnya dapat berupa rekomendasi serta diserahkan secaara resmi oleh BPK kepada Bupati, DPRD dan LAM. Dengan harapan dapat ditindaklanjuti. Tanpa kebijakan dan perhatian yang kuat dari Pemda dan dukungan masyarakat, gagasan dan ide untuk merawat WBTB diyakini hanya sebatas wacana,” imbuhnya berpesan.(mrs)









