Batam, Posmetrobatam.co: Semilir angin laut, semakin menambah kemeriahkan Festival Berlayar (Berbagi Literasi dan Edukasi Keuangan Rakyat) yang digelar Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Sabtu (15/11).
Hiruk pikuk pengunjung mulai memenuhi lapangan bola Belakang Padang, hingga malam. Deretan tenda kerucut berwarna merah putih stan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan perbankan berdiri rapi. Sementara, stan BI Kepri berada tepat berada di pintu masuk.
Ada sekitar puluhan bazar yang menawarkan kuliner khas masyarakat pesisir. Namun, ada yang tampak berbeda dalam Festival Berlayar, setiap tenda di pasang harga serba Rp15 ribu. Terlihat para pedagang memasang stiker berlogo Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) melalui satu kode QR di meja dagangannya.
Salah satunya UMKM Cemilan Kak Ros. Stand memawarkan Keripik Singkong Khas Belakangpadang pedas tapi gurih. Cemilan ini menjadi produk andalannya. Baru diletakkan habis terjual. Bahkan, keripik lainnya juga ludes.
“Laris manis,” kata Ros singkat.
Di meja dagangannya ada stiker QRIS, untuk bertransaksi. Ia mengaku tidak perlu repot lagi mencari uang pas. Karena, sejumlah pembeli sudah beralih ke digital. Meskipun, katanya ada juga yang membayar dengan uang tunai.
“Pakai QRIS ini gampang dan cepat Tinggal buka hp (handphone), transaksi selesai. Pelaku UMKM di sini (Belakangpadang) sebagian sudah ada QRIS. Tapi kami tetap melayani yang beli pakai uang cash,” ujarnya.
Meskipun, tinggal di hiterland atau pulau penyangga, digitalisasi sudah dirasakan masyarakat dan pelaku usaha. Langkah ini sebagai wujud Bank Indonesia Provinsi Kepri, untuk memperluas QRIS hingga ke pulau-pulau.
“Meskipun kami tinggal di pulau, di Belakangpadang warganya sudah mulai terbiasa dengan QRIS. Karena, sebagian kedai-kedai sudah memasang stiker QR. Kalau kami tak buat nanti dibilang UMKM tertinggal,” jelasnya.
“Yah, kami harus berubah beralih ke pembayaran digital. Apalagi di saat weekend, banyak wisatawan berkunjung. Tentunya QRIS ini sangat membantu kami,” tambah Ros.
Senada, disampaikan warga Belakangpadang, Khafi (45). Ia menilai, QRIS sudah memberikan perubahan yang besar untuk keseharian masyarakat terutama dalam bertransaksi. Kebiasaan membawa uang tunai saat ini sudah ditinggal.
“QRIS ini dampaknya sangat besar. Ini yang saya rasakan sendiri. Sekarang saya jarang bawa uang hanya hp. Kalaupun ada hanya uang receh,” jelasnya.
Ia pun berbagi cerita di Festival Berlayar. Untuk main Komedi Putar yang disediakan. Pengunjung diharuskan scan 1 rupiah hingga 15 kali di barcode QR yang disediakan panitia.
“Cara ini, menurut saya sebagai edukasi masyarakat pulau untuk lebih terbiasa menggunakan QRIS,” ucap bapak dua putra itu.
Bank Indonesia Kepri mendorong percepatan digitalisasi ekonomi hingga perbatasan. Pemilihan Festival Berlayar Belakangpadang, bukan tanpa sebab. Pulau yang dikenal dengan julukan “Pulau Penawar Rindu” punya historis sejarah yang panjang terbentuknya Kota Batam dan berhadapan langsung dengan negara Singapura.
“Belakangpadang ini tempatnya juga strategis dekat dengan Singapura. Jadi memang ini lebih, kayak rasional. Pulau ini punya potensi besar sebagai ikon ekonomi digital perbatasan untuk mengembangkan QRIS cross border,” ujar Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus.
Selain itu katanya, kegiatan ini sebagai langkah awal BI dalam memperluas pembayaran digitalisasi khususnya QRIS di wilayah pulau-pulau di Kepri. Dan mengenalkan digitalisasi kepada masyarakat setempat, termasuk pelaku UMKM, pengemudi becak, hingga penyedia jasa transportasi laut.
“Ini langkah awal BI untuk memperluas QRIS. Kami tidak mewajibkan, namun mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk menggunakan QRIS. Kami juga menyediakan stan perbankan ada rekening disiapkan dan QRIS juga bisa dibuat. Ini sangat untuk memudahkan mereka,” bebernya.
Dengan tingginya kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama dari Singapura, BI melihat peluang besar pemanfaatan QRIS lintas negara. Meski belum memiliki data spesifik jumlah transaksi di Belakang Padang, BI menilai potensi pengembangan QRIS cross-border di kawasan ini sangat menjanjikan.
“Saat ini, kami (BI) tengah menyasar pulau-pulau lain yang berpotensi dijadikan lokasi edukasi dan perluasan QRIS,” jelas Ardhienus
Dalam kegiatan Berlayar, BI juga menghadirkan Pojok Digital sebagai sarana edukasi penggunaan layanan keuangan digital, mulai dari cara menggunakan QRIS, pemahaman perlindungan konsumen, hingga penguatan gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
“Kami ingin masyarakat merasakan langsung manfaat digitalisasi dalam kegiatan ekonomi sehari-hari,” terang dia lagi.
Tercatat penggunaan QRIS di Provinsi Kepri terus meningkat signifikan. Di tahun 2024, volume transaksi mencapai 33,9 juta transaksi, tumbuh 117,34% (yoy). Hingga akhir September 2025, angkanya melonjak menjadi 64,9 juta transaksi, atau tumbuh 181,80% (yoy), dengan nilai transaksi mencapai Rp7,7 triliun atau tumbuh 140,31% (yoy).
Ini menunjukan masyarakat melek digital baik di mainland maupun di hiterland. Hal ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Kepri, yang ingin pelaku UMKM naik kelas.
Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Kepri, ada sekitar 2.000 UMKM di provinsi ini yang telah dikategorikan berdasarkan level pengembangan menuju UMKM berkelanjutan dan naik kelas. Seluruhnya diarahkan masuk dalam lembaga Koperasi Merah Putih sebagai wadah peningkatan kapasitas.
“Saat ini hampir pelaku UMKM, sudah berbenah. Mereka berinovasi mulai dari rasa, kemasan, izin, dan digitalisasi pembayaran juga sudah mudah. Ini salah satu langkah maju bagi UMKM di Kepri,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kepri Riki Rionaldi.
Ia juga sangat mendukung pembayaran digitalisasi bagi pelaku UMKM di Kepri. Riki menilai, salah satu bukti UMKM naik kelas, dengan melek digital. Ia juga menargetkan, UMKM di Kepri yang punya potensi untuk terus berkembang seperti di Natuna maupun Anambas yang memiliki produk olahan laut.
“Kepri ini punya keunggulan karena berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. UMKM, harus tahu itu. Selain ada produk yang ditawarkan, harus ada QR. Biar memudahkan masyarakat maupun wisman untuk bertransaksi. Tentunya kita sangat mendukung QRIS diperluas hingga ke pulau-pulau,” harap Riki. (Habibi)









