Trump Ancam Bombardir Pembangkit Listrik, Iran Siap Membalas

18

Posmetrobatam.co: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi waktu 2 hari atau 48 jam kepada Iran agar secara penuh membuka Selat Hormuz.Trump mengancam akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka penuh.

“Jika Iran tidak membuka secara penuh Selat Hormuz, dan tanpa ancaman, dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu,” kata Trump sebagaimana dikutip media sosial Gedung Putih dan disiarkan di X, pada Minggu (22/3).

Iran Siap Membalas

Iran akan mengambil langkah balasan jika fasilitas energi negara itu diserang, kata Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, Minggu, di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

BACA JUGA:  Malaysia Imbau PMI Ilegal agar Pulang Kampung Lewat Jalur Resmi, Ini Caranya

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyatakan bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, AS akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.

“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta fasilitas teknologi informasi dan desalinasi air milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran sesuai peringatan sebelumnya,” kata Zolfaghari, seperti dikutip kantor berita Fars.

Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan beberapa kota Iran lainnya, hingga menewaskan mantan pemimpin tertinggi Iran kala itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan ribuan warga sipil.

BACA JUGA:  Trump Menang Pemilu 2024, Apa Dampak Bagi Ekonomi Indonesia?

Iran membalasnya dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset-aset militer AS di Timur Tengah.

Iran juga membatasi perlintasan di Selat Hormuz guna memastikan keamanan di jalur perairan tersebut di tengah serangan AS dan Israel terhadap Iran.

AS dan Israel awalnya menyatakan bahwa serangan “pencegahan” itu diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dipersepsikan dari program nuklir Iran, namun kemudian AS-Israel menegaskan bahwa mereka ingin menyaksikan terjadi perubahan kekuasaan di Iran.

Sumber: Sputnik & Platform X Gedung Putih