posmetrobatam.co –Jakarta — AI (Artificial Intelligence) yang digunakan untuk memproses data besar seperti mengidentifikasi pola, melakukan tugas otomatis, dan meningkatkan efisiensi. Saat ini kepopulerannya semakin tinggi, kehadiran AI seolah sangat membantu pekerjaan manusia, terutama bagi para Jurnalis. Al dapat memudahkan Jurnalis dalam transkrip audio, pembuatan ide, judul, konsep dan sebagainya. Hal ini disampaikan Ketua AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia), Wahyu Dhyatmika dalam acara Navigating Al in Newsrooms: Research Insights and Media Business Sustainability di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Wahyu mengungkapkan bahwa, di era ini banyaknya jurnalis yang menggunakan AI dalam memudahkan pekerjaannya seperti membuat angle berita, konsep, foto, mengedit isi berita, transkip audio dan seterusnya. Bahkan ada juga yang membuat berita langsung menggunakan AI dengan hanya menaruh kata kunci saja, berita pun langsung selesai.
“Di era yang semakin maju ini, sudah banyak yang menggunakan AI. Apalagi cara penggunaannya sangat mudah, ada yang gratis dan berbayar. Ini tentu dimanfaatkan para jurnalis untuk mempermudah dalam membuat berita dengan cepat. Mulai dari angle berita, konsep, foto, mengedit isi berita, transkip audio dan seterusnya. Bahkan saya mendengar ada editor yang biasanya bisa buat artikel 20 sehari, dengan AI dia bisa bikin sampai 40 artikel. Ini sangat nyata,” ungkap Wahyu.
Ia mengatakan dengan adanya AI bukan berarti para jurnalis tidak menulis berita atau artikel dengan tepat, karena hasil kerja AI tidak bisa dipercaya 100%. Jadi tetap harus di koreksi kembali.
“Dengan adanya AI bukan berarti Jurnalis jadi malas dan tidak mengkoreksi ulang, tapi tetap harus diperhatikan kembali hasil yang dibuat menggunakan AI karena bahasa yang dipakai bukan bahasa formal manusia, AI hanya membuat dengan bahasa robot,” katanya.
Wahyu juga menuturkan bagaimana agar para publisher lebih melindungi konten berita mereka. Para publisher diminta lebih mengawal datanya dan di sisi hilirnya bagaimana bisnis dan tim justru mengoptimalisasi teknologi ini untuk keberlangsungannya di sisi hilir.
“Jadi lebih banyak bagaimana optimalisasi penggunaan AI untuk produktivitas redaksi dan bisnis, ada banyak opportunity yang bisa digali,” ucapnya.
Wahyu juga menjelaskan untuk memilih arah baru industri media, ada dua hal yang harus dilakukan. Dari sisi ekosistem medianya, dan dari sisi perusahaan publisher media itu sendiri.
“Dari sisi ekosistem medianya, kita perlu regulasi yang lebih baik. Kita perlu dukungan agar konten jurnalistik itu terlindungi. Entah itu dalam bentuk perubahan Undang-Undang Hak Cipta, entah itu dalam bentuk penguatan publisher right ke level yang lebih tinggi, regulasi apapun yang bisa membuat kita punya bargaining position yang lebih kuat ketika bernegosiasi dengan para platform digital,” jelasnya.
“Di sisi erusahaan publisher saya kira harus lebih mengenali datanya seperti apa. Aset mereka itu apa. Jadi harus tahu, diferensiasinya apa. Problem yang ingin mereka pecahkan dengan fungsi jurnalistiknya apa. Sehingga para publisher bisa menemukan sebuah model bisnis baru yang lebih sustainable,” imbuhnya.
Kemudian BBC’s Senior News Editor for Al, Olle Zachrison yang turut hadir melalui zoom
mengatakan, dalam mempercepat penggunaan implementasi AI yang bertanggung jawab untuk mendukung jurnalisme, berarti mendukung alur kerja baru.
“Jadi, ini berlaku baik dari dalam maupun bagi audiens. Dan semuanya tentu saja selalu dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip AI di BBC. Jadi, kami mengikuti pedoman AI kami dalam semua yang kami lakukan, kami tidak pernah bisa menyalahkan AI jika kami membuat kesalahan editorial,” pungkasnya.
(Fri)









