PERKEMBANGAN jujitsu di Kepulauan Riau tidak hanya terlihat dari semakin ramainya pertandingan, tetapi juga dari meluasnya pemanfaatan beladiri ini ke berbagai bidang. Di balik perjalanan tersebut, ada sosok Shihan Rozi Juhendra, yang akrab disapa Oji, yang konsisten mendorong jujitsu agar semakin dikenal dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Bagi Oji, jujitsu bukan sekadar olahraga yang mengantarkan atlet ke podium juara. Beladiri asal Jepang yang juga berkembang dalam berbagai aliran modern ini memiliki ruang yang jauh lebih luas, mulai dari pembinaan prestasi, pendidikan karakter anak dan remaja, pelatihan militer, pengamanan profesional, hingga menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Perjalanan itu dijalani melalui pembinaan organisasi, pengembangan dojo, pelatihan atlet, serta kemauan untuk terus belajar meskipun dirinya sudah memiliki pengalaman panjang di dunia beladiri.
Atlet Jujitsu 5 Kota/kabupaten Bersaing di Porprov Kepri 2026
Salah satu pencapaian yang menjadi perhatian Oji adalah keberhasilan membawa jujitsu tampil di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepulauan Riau sebanyak dua kali. Berawal pada tahun 2022 lalu, dan berlanjut pada Porprov Kepri 2026.
Partisipasi jujitsu semakin meluas dengan bertambahnya satu kabupaten sebagai peserta, yakni Karimun. Dengan demikian, terdapat lima kota/kabupaten yang berpartisipasi dalam cabang olahraga ini: Kota Batam, Kota Tanjung Pinang, Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun. Persaingan atlet pun makin ketat. Kekuatan atlet dan penyebarannya telah merata di masing-masing daerah tersebut. “Artinya, perjuangan atlet meraih titel juara pada Porprov kali ini makin berat,” ujar Oji.
Walau masih ada dua kabupaten: Natuna dan Anambas, yang tidak berpartisipasi pada cabor jujitsu, namun Oji menyebut, Porprov kali ini sangat kompetitif.
“Ini telah memenuhi syarat, karena untuk ikut Porprov di Kepri, minimal jujitsu sudah berkembang di empat kota/kabupaten dan telah terbentuk kepengurusan,” jelas Oji.
Sebab di Provinsi Kepri hanya terdiri dari 7 kota/kabupaten. Dengan telah terbentuknya kepengurusan jujitsu, minimal di empat kota/kabupaten, itu telah memenuhi syarat cabor jujitsu bisa diikut-sertakan pada Porprov Kepri.
Bagi perkembangan sebuah cabang olahraga, bertambahnya daerah peserta bukan sekadar urusan jumlah kontingen. “Hal itu juga menunjukkan bahwa pembinaan mulai berjalan di lebih banyak wilayah dan membuka kesempatan bagi atlet untuk berkembang melalui kompetisi resmi,” ujar Oji.
Dia menyebut, Porprov Kepri 2026 juga menghadirkan banyak wajah baru di arena pertandingan. Kehadiran atlet-atlet baru ini menjadi bagian penting dari regenerasi. Sebuah cabang olahraga tentu membutuhkan lebih dari sekadar atlet andalan. “Kita juga memerlukan bibit-bibit baru yang mendapat kesempatan berlatih, bertanding, dan meningkatkan kemampuan secara bertahap,” jelas pria kelahiran 6 Juni 1982 ini.
Karena itu, pekerjaan rumah pembinaan tidak berhenti ketika Porprov selesai. Tantangan berikutnya adalah memastikan para atlet tetap berlatih di dojo masing-masing, mendapatkan pendampingan pelatih, dan memiliki agenda kompetisi yang berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Pengurus Provinsi Jujitsu Kepulauan Riau, Oji memandang perkembangan jujitsu tidak seharusnya hanya diukur dari prestasi pertandingan. Walau hal itu sangat membantu dalam mempercepat jujitsu lebih dikenal masyarakat luas.
Berhasil meraih dua medali pada ajang begengsi Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 lalu, perjuangan Oji tak sampai di titik itu. Medali perak dan perunggu PON XXI yang masing-masing diraih Danang dan Tomi itu menjadi bukti bahwa Oji benar-benar serius dalam pembinaan prestasi atlet.
“Tak mudah meraih medali di ajang PON. Untuk dinyatakan lolos bertanding pada PON itu, atlet harus melalui babak kualifikasi,” jelas Oji. Tak heran, banyak atlet atau cabor yang bahkan tak mampu meloloskan satu atlet pun untuk masuk PON.
Sebagai pelatih kepala jujitsu Kepri untuk berbagai agenda nasional, baik multi-event, single-event, maupun kejuaraan open, ia terlibat dalam upaya menyiapkan atlet agar mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Namun, pembinaan atlet hanyalah salah satu sisi dari aktivitasnya. Oji juga mengembangkan jujitsu untuk kebutuhan pelatihan militer. Ia dipercaya menjadi pelatih kepala pelatihan jujitsu bagi personel TNI AD di Yonif TP 849/BS, Lingga.
“Dalam konteks militer, materi latihan dapat diarahkan pada penguasaan teknik pertahanan diri, kontrol lawan, kemampuan menghadapi situasi jarak dekat, serta pengambilan keputusan di bawah tekanan, sesuai kebutuhan dan standar pelatihan satuan,” jelas Oji.
Di luar lingkungan militer, pengembangan jujitsu juga menyentuh sektor keamanan profesional. Oji menjadi pelatih kepala dojo khusus personel security PT Bhakti Tidar Nusantara (Bhatara), serta membina dojo lainnya.
Ia juga pernah melatih jujitsu di Kantor Bakamla Zona Maritim Barat hingga tahun 2019, serta di lingkungan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK); security Pelabuhan Internasional Batam Centre; dan security Putra Tidar Perkasa (PTP), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengamanan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana teknik beladiri dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Atlet membutuhkan kemampuan untuk berkompetisi, personel militer membutuhkan keterampilan yang relevan dengan tugasnya, sementara petugas keamanan memerlukan penguasaan kontrol dan prosedur penanganan situasi sesuai kewenangannya.
“Tentu saja, setiap program harus tetap memperhatikan keselamatan, proporsionalitas penggunaan kekuatan, dan standar operasional yang berlaku,” ucapnya.
Membentuk Karakter Sejak Usia Dini
Perhatian Oji juga tertuju pada anak-anak dan remaja. Melalui pembinaan di dojo, jujitsu menjadi sarana untuk mengenalkan disiplin, tanggung jawab, rasa hormat, keberanian, serta kemampuan mengendalikan diri.
“Di atas matras, seorang anak belajar bahwa kekuatan tidak selalu berarti harus menang sendiri. Ada aturan yang harus ditaati, ada pasangan latihan yang harus dihormati, dan ada proses panjang yang perlu dijalani sebelum naik ke tingkat berikutnya,” paparnya.
Anak juga belajar menerima kekalahan, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali ketika sebuah teknik belum berhasil. Nilai-nilai semacam ini dapat menjadi bekal penting dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.
Bagi remaja, latihan beladiri Jujitsu juga dapat menjadi kegiatan positif untuk mengisi waktu luang, menjaga kebugaran, dan membangun rasa percaya diri.
Dari sinilah Oji ingin jujitsu menjadi lebih dekat dengan keluarga dan masyarakat. “Tidak semua orang yang datang ke dojo harus bercita-cita menjadi atlet,” sebutnya. Ada yang ingin belajar membela diri, ada yang ingin memperbaiki kebugaran, dan ada pula yang sekadar mencari lingkungan latihan yang sehat dan positif.
“Dengan kata lain, jujitsu dapat menjadi bagian dari gaya hidup, bukan hanya agenda olahraga menjelang kejuaraan,” katanya.
“Gelas yang Tak Pernah Penuh”
Menariknya, di tengah kesibukannya membina atlet dan mengurus organisasi, Oji tetap menyediakan ruang untuk belajar. Dalam aliran Combat Sport Jujitsu melalui Indonesia Spider Jujitsu (ISJ), Oji telah mencapai tingkat sabuk hitam DAN IV. Namun, pencapaian tersebut tidak membuatnya berhenti memperluas pengetahuan tentang beladiri.
Salah satu fokusnya saat ini adalah pengembangan Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ), aliran yang dikenal luas dengan penekanan pada grappling, kontrol posisi di lantai, dan teknik submission.
“Karena pada cabor jujitsu ini banyak kategori pertandingan,” imbuhnya. Pada keahliannya sebagai pelatih sabuk hitam combat sport jujitsu, atlet diarahkan bertanding untuk kategori Contact/combat Jujitsu, Fighting System dan Show System. Sedangkan pada keahliannya sebagai seorang praktisi BJJ, Oji mengarahkan atlet untuk bertanding pada kategori Jiujitsu/Newaza.
Oji mulai menekuni BJJ sekitar sebelas tahun silam. Meski demikian, perjalanan kenaikan tingkat sabuknya berlangsung bertahap. Pada 2023, ia baru dipromosikan dari sabuk putih ke sabuk biru dalam sebuah kegiatan di Jakarta. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 5 Desember 2025, ia kembali mendapat promosi ke sabuk ungu BJJ di Batam.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa pengalaman dan tingkatan dalam satu aliran beladiri tidak serta-merta menggantikan proses belajar pada aliran lainnya. “Setiap sistem memiliki pendekatan, kurikulum, standar penilaian, dan tradisi pengembangan teknik masing-masing,” jelasnya.
Bagi Oji, menjadi pelatih bukan berarti selesai menjadi murid. Justru, semakin banyak pengalaman yang dimiliki, semakin besar pula kebutuhan untuk terus memperbarui pengetahuan.
Ia berafiliasi dengan Spider BJJ, yang didirikan oleh Rally Polandos. Rally merupakan pemegang sabuk hitam BJJ, yang dipromosikan oleh Prof Marcos Tulio Machado dari Brazilian Top Team (BTT). BTT dikenal sebagai organisasi atau tim beladiri asal Brazil yang berkembang dengan Brazilian Jiu-Jitsu dan mixed martial arts (MMA).
Bagi Oji, proses belajar BJJ menjadi kesempatan untuk memperkaya perspektif teknik sekaligus memperluas jaringan pembinaan. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kualitas latihan, tentu dengan tetap menghormati sistem dan standar masing-masing aliran.
Di dunia beladiri, sabuk memang menjadi penanda perjalanan. Namun, kemauan untuk terus belajar merupakan modal yang tidak kalah penting.
Mengabdi Lewat organisasi dan Pembinaan
Aktivitas Oji tidak berhenti di ruang latihan. Ia juga menjalankan sejumlah tanggung jawab organisasi yang berkaitan dengan pembinaan jujitsu dan olahraga.
Sebagai Ketua Yayasan Indonesia Spider Jujitsu, ia terlibat dalam pengembangan organisasi dan kegiatan pembinaan. Sementara sebagai Ketua Umum Pengprov Jujitsu Kepri, ia mengemban tanggung jawab dalam mendorong perkembangan cabang olahraga ini di tingkat provinsi.
Ia juga menjabat Kepala Humas Komite Wasit Nasional Jujitsu Indonesia, posisi yang berkaitan dengan komunikasi dan penyampaian informasi organisasi. Di luar jujitsu, Oji tercatat sebagai Sekretaris Umum Pengprov Savate Kepri, pengurus KONI Kepri, serta Wakil Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Kepri.
Pengalaman dan keterlibatannya di berbagai lingkungan olahraga tersebut membuat aktivitasnya bersinggungan dengan pembinaan atlet, organisasi, komunikasi, serta pengembangan olahraga beladiri.
Dedikasi di bidang kepelatihan juga mendapat pengakuan. Oji menerima penghargaan sebagai pelatih berprestasi dari Wali Kota Batam pada 2024 dan dari Gubernur Kepulauan Riau pada 2025.
Ia turut mendirikan Kenacha Martial Arts Academy Batam, yang menjadi salah satu wadah pembinaan beladiri. Kehadiran tempat latihan seperti ini penting karena pengembangan cabang olahraga tidak cukup hanya mengandalkan agenda pertandingan. Diperlukan tempat berlatih yang konsisten, pelatih yang mendampingi, dan sistem pembinaan yang memberi ruang bagi pemula maupun atlet berpengalaman.
Melihat perkembangan jujitsu Kepri hingga Porprov 2026, masih ada ruang untuk memperluas pembinaan, terutama di Natuna dan Kepulauan Anambas. Di sisi lain, bertambahnya atlet baru juga perlu diikuti dengan program latihan yang berkelanjutan agar regenerasi tidak berhenti pada satu kejuaraan.
“Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara prestasi, kualitas teknik, keselamatan latihan, pembinaan karakter, dan keberlanjutan organisasi,” katanya.
Bagi Oji, jujitsu memiliki banyak pintu untuk berkembang. Ada jalur kompetisi bagi mereka yang ingin menjadi atlet, jalur pendidikan karakter bagi anak dan remaja, program pertahanan diri bagi masyarakat, serta pelatihan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan profesi tertentu.
Perjalanan dari matras dojo hingga arena Porprov, dari pembinaan anak-anak hingga pelatihan personel militer, memperlihatkan bahwa beladiri ini dapat tumbuh melalui pendekatan yang beragam.
Dan di tengah semua peran itu, Oji masih menempatkan dirinya sebagai seorang pembelajar. Sabuk hitam DAN IV di Indonesia Spider Jujitsu dan sabuk ungu BJJ bukanlah garis akhir, melainkan dua bagian dari perjalanan yang terus berjalan.
Sebab, membangun jujitsu di daerah bukan hanya tentang melahirkan juara. Lebih dari itu, membangun jujitsu berarti menyiapkan generasi, memperkuat komunitas, dan memastikan bahwa ilmu beladiri memberikan manfaat nyata bagi orang-orang yang mempelajarinya.(***)
Tampilan:
Klik: 0
