
Menurut psikologi, orang-orang yang tidak menggunakan media sosial sering kali menikmati beberapa efek bermanfaat yang mengejutkan.
Dikutip dari Hack Spirit, Senin (19/8) ini, ada sembilan manfaat tak terduga dari melepaskan diri dari kebisingan digital.
- Peningkatan fokus
Di dunia yang dipenuhi dengan notifikasi, pembaruan, dan pesan yang terus-menerus, fokus bisa jadi sulit didapat.
Ini adalah satu area di mana mereka yang memilih untuk tidak menggunakan media sosial yang memiliki keuntungan jelas.
Tanpa hiruk pikuk media sosial yang terus-menerus, mereka tidak akan terganggu oleh hal-hal yang dapat menarik perhatian mereka.
Ini berarti mereka dapat sepenuhnya membenamkan diri dalam pekerjaan, hobi, dan hubungan mereka yang benar-benar nyata.
Mereka mampu mencurahkan perhatian penuh pada tugas yang sedang dikerjakan, entah itu proyek pekerjaan, buku yang sedang dibaca, atau percakapan yang sedang dilakukan.
Hasilnya adalah peningkatan produktivitas dan kualitas kerja yang signifikan. Hal ini juga mengarah pada interaksi yang lebih bermakna dengan orang lain karena mereka hadir sepenuhnya pada saat itu.
- Peningkatan kualitas tidur
Salah satu manfaat mengejutkan dari menjauh dari media sosial adalah dampak positifnya terhadap kualitas tidur.
Penelitian menemukan bahwa orang yang tidak menggunakan media sosial melaporkan memiliki kualitas tidur yang lebih baik daripada rekan-rekan mereka yang aktif di platform tersebut.
Cahaya biru yang dipancarkan layar diketahui mengganggu siklus tidur alami tubuh, menipu otak kita hingga berpikir saat itu masih siang hari dan membuat kita lebih sulit tertidur.
Selain itu, rangsangan mental dari terus-menerus mengonsumsi konten baru juga dapat membuat pikiran kita terus berdengung lama setelah kita menyingkirkan perangkat kita. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan tidur dan malam yang gelisah.
Dengan menghindari media sosial, terutama sebelum tidur, Anda membiarkan pikiran Anda rileks dengan baik, sehingga Anda dapat tidur nyenyak di malam hari.
- Hubungan yang lebih kuat
Anda mungkin berpikir bahwa melepaskan diri dari media sosial akan mengakibatkan hilangnya koneksi sosial. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Orang-orang yang memutuskan untuk tidak menggunakan media sosial sering kali melaporkan memiliki hubungan yang lebih kuat dan lebih bermakna.
Tanpa gangguan pembaruan terus-menerus dan permintaan pertemanan, mereka memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk berinvestasi dalam hubungan yang benar-benar penting.
Alih-alih menyukai kiriman teman atau mengirimi mereka pesan singkat di media sosial, mereka meluangkan waktu untuk bertemu langsung atau mengobrol lama di telepon.
Interaksi yang lebih mendalam ini menghasilkan ikatan yang lebih kuat dan hubungan yang lebih memuaskan.
Mereka juga terhindar dari perangkap perbandingan yang banyak terjadi di media sosial, yaitu membandingkan kehidupan dan hubungan mereka sendiri dengan momen-momen terbaik orang lain.
Hal ini membantu mereka lebih menghargai hubungan mereka sendiri, yang berujung pada peningkatan kepuasan dan berkurangnya ketidakpuasan.
- Mengurangi kecemasan dan depresi
Penelitian menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi tempat berkembang biaknya kecemasan dan depresi.
Perbandingan yang terus-menerus, tekanan untuk menampilkan kehidupan yang sempurna, rasa takut ketinggalan, semua faktor ini dapat menyebabkan meningkatnya tingkat stres dan perasaan tidak mampu.
Orang-orang yang menjauhi media sosial sering melaporkan mengalami lebih sedikit kecemasan dan depresi.
Mereka tidak terus-menerus dibombardir dengan gambar-gambar kehidupan “sempurna” orang lain atau merasa tersisih saat melihat unggahan tentang acara-acara yang tidak mereka hadiri.
Dengan melepaskan diri dari siklus ini, mereka dapat fokus pada kehidupan dan pencapaian mereka sendiri daripada membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini dapat meningkatkan rasa harga diri dan kesehatan mental secara keseluruhan.
- Penerimaan diri yang lebih besar
Platform media sosial sering kali menampilkan versi terbaik kehidupan orang-orang, yang dapat membuat kita mudah terjebak dalam perangkap perbandingan dan keraguan terhadap diri sendiri.
Namun mereka yang memilih untuk menjauh dari media sosial sering kali menemukan sudut pandang yang lebih lembut dan baik terhadap diri mereka sendiri.
Tanpa rentetan kehidupan yang tampaknya sempurna, mereka bisa lebih fokus pada jalan dan kemajuan mereka sendiri.
Mereka menjadi terbebas dari perbandingan tak berujung dan standar tidak realistis yang ditetapkan oleh media sosial, sehingga memungkinkan citra diri yang lebih sehat dan penerimaan diri yang lebih besar.
- Lebih banyak waktu luang
Berapa kali kita mendapati diri kita tanpa sadar menggulir media sosial, hanya untuk melihat dan menyadari bahwa kita telah membuang-buang waktu berjam-jam dalam sehari?
Ini adalah skenario yang dapat dialami sebagian besar dari kita. Orang-orang yang tidak menggunakan media sosial sering kali merasa memiliki lebih banyak waktu luang.
Waktu yang dulu dihabiskan untuk menggulir, menyukai, dan mengomentari kini dapat digunakan untuk kegiatan lain.
Waktu tambahan tersebut juga dapat digunakan untuk pengembangan dan pertumbuhan pribadi.
Dengan menukar waktu yang dihabiskan di media sosial dengan kegiatan yang menyehatkan pikiran dan jiwa, mereka sering kali mendapati diri mereka menjalani kehidupan yang lebih memuaskan.
- Bebas dari notifikasi
Bayangkan Anda sedang asyik membaca buku bagus, atau makan malam bersama keluarga, dan tiba-tiba ponsel Anda bergetar. Posting baru, komentar baru, like baru, ini siklus yang tidak akan pernah berakhir.
Orang-orang yang tidak menggunakan media sosial dapat menikmati kesenangan sederhana berupa momen-momen tanpa gangguan.
Tidak perlu lagi memeriksa ponsel secara kompulsif setiap kali ponsel berbunyi. Tidak perlu lagi merasa perlu untuk segera menanggapi setiap komentar atau pesan.
Mereka dapat menikmati hidangan tanpa merasa perlu mendokumentasikannya. Mereka dapat melihat matahari terbenam yang indah dan menghargainya apa adanya, daripada memikirkan berapa banyak like yang akan didapat dari foto tersebut.
Ini adalah kegembiraan yang menenangkan yang datang dari menjalani kehidupan saat ini dan tidak terikat oleh notifikasi digital yang terus-menerus.
Mereka dapat mendapatkan kembali waktu dan perhatian mereka dan menggunakannya sesuai keinginan mereka, bebas dari tarikan notifikasi media sosial yang tiada henti.
- Persepsi diri yang realistis
Kita semua terkadang perlu pemeriksaan realitas, dan salah satu kebenaran yang paling sulit untuk diterima mungkin adalah ini: media sosial sering kali mendistorsi persepsi diri kita.
Orang yang tidak menggunakan media sosial sering kali lebih dekat dengan diri mereka yang sebenarnya, bukan versi yang telah difilter dan diedit yang cenderung kita tampilkan secara daring.
Mereka terhindar dari tekanan terus-menerus untuk mengumpulkan like dan komentar, yang dapat mendistorsi rasa harga diri seseorang.
Alih-alih mencari validasi dari orang lain, mereka belajar untuk memvalidasi diri mereka sendiri. Mereka bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa filter dan autentik.
Mereka tidak harus mengikuti kepribadian daring atau mempertahankan feed yang dikurasi dengan sempurna.
- Hubungan yang lebih sehat dengan teknologi
Ini mungkin hal terpenting yang dapat disimpulkan, bahwa, orang yang tidak menggunakan media sosial sering kali memiliki hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Mereka memakai teknologi sebagai alat, bukan sebagai sandaran atau sumber validasi. Mereka tidak membiarkan hal itu memengaruhi suasana hati atau harga diri mereka.
Mereka mampu menetapkan batasan dan memastikan hal itu tidak mengganggu kehidupan mereka.
Daripada terus-terusan terpaku pada layar, mereka dapat terlibat lebih penuh dengan dunia di sekitar mereka.
Mereka dapat menghargai keindahan suatu momen tanpa merasa perlu mengabadikannya untuk media sosial. Hubungan yang lebih sehat dengan teknologi ini juga meluas ke area lain dalam kehidupan mereka. (jpg)