Ramus Paludan, Politikus Pembakar Al-Qur’an Diadili

67
Ilustrasi Alquran. (Istimewa)

Akhirnya si pembakar Al-Qur’an ini Diadili. Dia adalah seorang politisi.

Pada musim panas 2023 silam, serangkaian protes pembakaran Al-Qur’an terjadi di Swedia. Termasuk di area luar gedung parlemen yang memicu perdebatan domestik mengenai undang-undang kebebasan berekspresi yang sangat liberal di negara tersebut. Aksi protes tersebut menyebabkan pertikaian diplomatik antara Swedia dan negara-negara muslim.

Vilhelm Persson, profesor hukum di Universitas Lund mengatakan, persidangan Paludan merupakan kasus pertama yang diadili terkait pembakaran Al-Qur’an. Kasus tersebut disidangkan di pengadilan distrik berarti memiliki batasan.

”Agar dapat menjadi preseden hukum, persidangan tersebut harus disidangkan di Mahkamah Agung Swedia,” papar Vilhelm Persson.

Ramus Paludan, pemimpin partai politik di Denmark Stram Kurs. Dilansir dari theguardian.com, Paludan menolak menghadiri pengadilan distrik Malmo saat persidangan pada Senin (14/10).

BACA JUGA:  Presiden Volodymyr Zelensky Ucapkan Terima Kasih kepada Indonesia Lantaran Telah Dukung Kedaulatan Ukraina

Dia beralasan takut nyawanya terancam bila mendatangi kota di selatan Swedia itu. Sebagai gantinya, dia muncul melalui tautan video dari lokasi yang dirahasiakan di Swedia.

Paludan didakwa dengan dua tuduhan yakni penghasutan terhadap kelompok etnis dan satu tuduhan penghinaan terkait pertemuan yang diadakan di Swedia pada 2022. Paludan mengadakan pertemuan publik yang diikuti kerusuhan di kota-kota Swedia termasuk Malmö, Landskrona, Linköping, dan Örebro, pada akhir pekan Paskah.

Dalam pertemuan itu, dia membuat beberapa pernyataan yang menurut jaksa merupakan hasutan pada suatu kelompok etnis. Selain itu, pada September 2022, Paludan dituduh melakukan serangan verbal rasial terhadap orang Arab dan Afrika dan terancam dihukum dengan denda atau penjara hingga 6 bulan.

BACA JUGA:  Bikin Penduduk Gaza Kelaparan, Masyarakat Internasional Diminta Tekan Israel

Paludan membantah semua tuduhan tersebut. Dalam video jarak jauh dia menyatakan sebagai seorang kritikus Islam dan mengkritik Islam bukan muslim.

”Saya ingin mengkritik ide, bukan orang,” ucap Paludan. (jpg)