Menko Airlangga Ungkap APBN Defisit hingga Kurs Rp 17.500 Per Dolar AS, Jika Perang Iran Vs Israel-AS Berlarut

70

Jakarta, Posmetrobatam.co: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memaparkan tiga skenario terburuk, jika perang antara Iran versus  Israel dan Amerika Serikat berlarut hingga 6 bulan bahkan 10 bulan.

“Skenario terburuk, yang pesimis itu, dengan harga (minyak mentah dunia) 115 (dolar AS per barel), kurs rupiah kita Rp17.500 (per dolar AS), growth-nya 5,2 (persen), (imbal hasil) surat berharga (SBN) 7,2 (persen), defisitnya 4,06 persen,” kata Airlangga kepada Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3).

Kemudian, dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga melaporkan dua skenario lainnya, yang relatif lebih moderat, tetapi defisit APBN-nya juga diasumsikan melampaui angka 3 persen. ​​​​​​

BACA JUGA:  KPK Tangkap 14 Orang dan Sita 21 Kendaraan Terkait OTT Wamenaker Immanuel Ebenezer

Asumsinya, harga minyak mentah dunia mencapai 90 dolar AS per barel, jika perang berlarut hingga 5 bulan, kemudian 97 dolar AS per barel jika perang berlarut hingga 6 bulan, dan 115 dolar AS per barel jika perang berlarut hingga 10 bulan.

Nah, kalau kita masukkan terhadap APBN kita Pak yang sekarang. Ini skenarionya, yang pertama ICP-nya di 86 (dolar AS per barel), kursnya di Rp17.000, Pak, APBN kita kursnya Rp16.500, kemudian dengan growth kita pertahankan, Pak. Jadi, ini yang kita pertahankan growth di 5,3 (persen), surat berharga negaranya, angkanya lebih tinggi Pak 6,8 persen, maka defisitnya adalah 3,18 persen,” kata Airlangga saat memaparkan skenario pertama.

BACA JUGA:  8 Perusahaan Semi Konduktor dan Green Energy Resmi Beroperasi di Kawasan Industri Wiraraja, Menko Airlangga Beri Pujian

Kemudian, untuk skenario kedua, ICP atau harga minyak mentah dalam negeri diproyeksikan 97 dolar AS per barel, kurs rupiah terhadap dolar Rp17.300 per dolar AS, tingkat pertumbuhan diproyeksikan 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2 persen, maka defisit APBN mencapai 3,53 persen.

“Defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja, dan memotong pertumbuhan, Pak. Ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas,” kata Airlangga kepada Prabowo.(ant)