Save the Children: Anak Indonesia Tertekan di Ruang Digital dan Terancam Krisis Iklim

149

Batam, Posmetrobatam.co: Anak-anak Indonesia semakin aktif di ruang digital, namun tekanan terhadap kesehatan mental dan perlindungan mereka kian meningkat. Pada saat yang sama, krisis iklim yang memburuk turut menggerus pemenuhan hak-hak dasar anak, mulai dari pangan, pendidikan, hingga rasa aman.

Fakta tersebut disampaikan Save the Children Indonesia dalam diskusi media awal tahun 2026, di Jakarta, Rabu (14/1). Organisasi ini menegaskan bahwa tantangan digital dan krisis iklim kini menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.

Studi Save the Children Indonesia tahun 2025 tentang Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak mencatat hampir 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu 3–6 jam per hari di depan gawai. Puncak penggunaan terjadi pada pukul 18.00–21.00. Anak perempuan tercatat menghabiskan waktu layar lebih lama dibandingkan anak laki-laki.

BACA JUGA:  Tak Mau Nambah Anak, Metode KB Pria Diminati Warga Batam

Temuan ini menegaskan bahwa ruang digital telah menjadi bagian utama kehidupan anak. Bahkan ketika sekolah melarang penggunaan ponsel, banyak anak tetap berusaha mengakses gawai selama jam pelajaran.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital tidak otomatis memperbaiki kesehatan mental anak. Sebaliknya, tingkat kecanduan digital yang tinggi justru berkorelasi dengan memburuknya kondisi kesehatan mental. Anak-anak umumnya sudah mengenali risiko di ruang digital, seperti penipuan, peretasan, pencurian data, dan perundungan siber. Namun, pemahaman ini tidak diiringi dengan keterampilan untuk merespons risiko secara aman dan sehat.

“Anak-anak tahu risikonya, tetapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan penguasaan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai,” tegas CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar.

BACA JUGA:  OJK Berkolaborasi Dengan Pegadaian Gelar Literasi Keuangan di SMAN 1 Karimun

Di luar ancaman digital, anak-anak juga menghadapi dampak serius krisis iklim. Laporan Voluntary National Review SDGs 2025 menunjukkan bahwa krisis iklim telah merampas berbagai hak anak. Perubahan iklim mengganggu pola makan dan kesehatan anak, menekan pendapatan keluarga, serta meningkatkan risiko perlindungan, terutama dalam situasi bencana.

Kajian bersama Save the Children dan Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025 menemukan bahwa ketersediaan air bersih di lokasi pengungsian masih belum merata. Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi anak dan keluarga. Selain itu, banyak fasilitas kesehatan terdampak dan tidak mampu memberikan layanan optimal, sementara kebutuhan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui belum terpenuhi secara memadai.

BACA JUGA:  Lebih Cepat dan Transparan, Pemko Batam Luncurkan Tiga Inovasi Digital

Menghadapi situasi tersebut, Save the Children Indonesia mendorong pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi. Memasuki 2026, organisasi ini menetapkan sejumlah prioritas mendesak, antara lain memperkuat keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan, sistem perlindungan, serta partisipasi anak, guru, dan orang tua; meningkatkan literasi adaptasi krisis iklim dan mendorong aksi iklim yang bermakna bagi anak; serta memastikan pemenuhan hak anak dalam masa transisi pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh aman, sehat, dan tangguh menghadapi krisis serta perubahan zaman. Tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak hari ini, cita-cita itu akan sulit tercapai,” kata Dessy. (hbb)