“Ritual Kepala Manusia di Gunung Demit”
BAKAR kemenyan di malam Jumat, adalah waktu yang paling tepat, untuk Katimin mengetahui keberadaan para penunggu (demit) yang ada di Gunung Demit.
“Dulu, sekitar tahun 1965-an, warga Kampung Sidorejo Desa Sri Bintan rutin buat ritual tumbal untuk Gunung Demit. Tujuannya, ketika diberi sesembahan, para demit itu tidak marah atau tidak mengganggu kehidupan warga Kampung Sidorejo dan sekitarnya,” sebut Katimin.
“Menurut penduduk setempat waktu tahun 1965-an, ritual di Gunung Demit menggunakan sesembahan kepala manusia,” ceritanya lagi.
Namun, lanjut Katimin, seiring berjalannya waktu, ritual di Gunung Demit tak lagi menggunakan kepala manusia. Tapi, diganti dengan kepala kambing.
Katimin masih bersemangat menceritakan tentang misteri Gunung Demit.
“Dulu saya pernah diajak jalan sama demit di Gunung Demit itu. Saat tengah malam. Itu di malam Jum’at Kliwon. Disana, di puncak Gunung Demit itu, penunggunya para prajurit panglima perang. Tapi, para prajurit disana, banyak yang berjanggut. Penampilan mereka seperti Pangeran Diponegoro,” ujarnya.
Maka dari itu, penduduk setempat selalu menggelar ritual dengan sesembahan kepala kambing, setiap lima tahun sekali. Kepala kambing itu ditanam di puncak Gunung Demit.
“Dulu, yang ditanam kepala manusia. Karena tumbalnya dulu adalah kepala manusia. Setelah itu, diganti dengan kepala kambing. Kalau ada yang berani membuktikan, silakan naik ke puncak Gunung Demit, di sana ada kotak yang isinya tengkorak kepala manusia,” tegasnya.
Belakangan ini, Katimin menambahkan, saat ini, ketika memasuki zaman modern, ritual untuk mempersembahkan kepala kambing di puncak Gunung Demit itu, tak ada lagi.(Baiq)









