Batam, posmetrobatam.co: Anggota DPRD Kota Batam, Gabriel Shafto Ara Anggito Sianturi menyoroti ketegangan yang kembali terjadi antara Iran dan Amerika Serikat–Israel. Konflik ini mengingatkan dunia bahwa gejolak geopolitik belum reda. Serangan balasan, ancaman militer, dan retorika politik keras mengguncang Timur Tengah sekaligus menimbulkan ketidakpastian global, mulai dari keamanan energi hingga stabilitas ekonomi internasional.
Di tengah situasi ini, Indonesia menghadapi pertanyaan klasik: apakah politik luar negeri bebas aktif masih relevan, ataukah prinsip itu kini terlalu idealistis untuk dunia yang semakin keras dan terpolarisasi? Pertanyaan ini bukan sekadar perdebatan akademik, tetapi menyangkut arah strategis diplomasi Indonesia di abad ke-21.
Warisan Strategi yang Tetap Hidup
Sejak kemerdekaan, Indonesia menempuh jalur diplomasi unik. Mohammad Hatta, dalam pidatonya “Mendayung di Antara Dua Karang”, menegaskan bahwa Indonesia tidak akan terjebak dalam pertarungan blok kekuatan besar.
Prinsip ini kemudian dikenal sebagai politik luar negeri bebas aktif: bebas menentukan sikap tanpa terikat kekuatan mana pun, sekaligus aktif menjaga perdamaian dunia.
Dalam praktiknya, kebijakan ini memungkinkan Indonesia menjalin hubungan dengan berbagai negara yang memiliki kepentingan geopolitik berbeda. Negara ini bisa berdialog dengan Barat, bekerja sama dengan negara berkembang, dan berperan di forum internasional tanpa kehilangan independensi.
Dalam konflik Iran dan AS–Israel, prinsip bebas aktif memberi Indonesia ruang untuk menghindari terjebak dalam rivalitas militer maupun politik yang tidak terkait langsung dengan kepentingan nasional.
Bebas aktif sering disalahartikan sebagai netral pasif. Padahal, Indonesia memaknai netralitas sebagai posisi strategis untuk tetap mendorong perdamaian.
Indonesia secara konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui dialog, penghormatan hukum internasional, dan mekanisme diplomasi multilateral. Pendekatan ini menunjukkan keyakinan bahwa eskalasi militer bukan jalan keluar konflik global.
Dalam dunia yang terpolarisasi, posisi seperti ini justru penting. Negara yang tidak terikat blok besar memiliki peluang lebih besar untuk menjadi jembatan diplomatik. Namun, menerjemahkan idealisme ini ke politik global nyata tidak selalu mudah.
Tantangan utama politik bebas aktif kini muncul dari kompleksitas sistem internasional. Berbeda dengan masa Perang Dingin yang dibagi dua blok besar, peta geopolitik saat ini lebih rumit.
Persaingan global makin tajam, konflik regional makin sering, dan tekanan terhadap negara berkembang untuk menentukan posisi politik semakin besar. Netralitas kerap dipandang ambigu, bahkan oportunistik.
Konflik Iran–AS–Israel menegaskan dilema ini. Setiap eskalasi memicu tekanan diplomatik dan opini publik global. Indonesia harus menjaga keseimbangan antara prinsip bebas aktif dan kepentingan nasional dengan semakin cermat.
Politik bebas aktif harus lebih dari sekadar retorika sejarah. Indonesia perlu memperkuat strategi dengan tiga pijakan:
Diplomasi Proaktif: Memanfaatkan forum regional dan internasional untuk memperkuat peran sebagai aktor yang mendorong stabilitas global.
Kekuatan Ekonomi: Menjadikan ekonomi, teknologi, dan jaringan perdagangan sebagai fondasi pengaruh global.
Pertahanan Nasional: Memperkuat kapasitas pertahanan agar netralitas dihormati dan kedaulatan terjaga.
Bebas aktif harus menjadi strategi non-alignment yang aktif dan strategis, bukan sekadar sikap tidak berpihak.
Konflik Iran, AS, dan Israel menegaskan dunia kini lebih tidak stabil. Rivalitas kekuatan besar, konflik regional, dan persaingan ekonomi akan terus mewarnai politik internasional.
Dalam kondisi ini, politik luar negeri bebas aktif tetap relevan bagi Indonesia. Prinsip ini memungkinkan negara menjaga kemandirian kebijakan luar negeri tanpa terjebak konflik besar.
Namun, dunia kini bukan lagi laut tenang seperti saat konsep ini diperkenalkan. Gelombang lebih tinggi, arus lebih deras, dan tekanan lebih besar. Indonesia tidak hanya harus “mendayung di antara dua karang,” tetapi juga memastikan perahunya cukup kuat menghadapi badai geopolitik yang semakin sering datang.(*/hbb)









