Limbah Minyak Hitam Cemari Perairan Bintan, Lingga hingga Batam, Gubernur Kepri Minta APH Tindak Pelaku

15

Kepri, Posmetrobatam.co: Kapal-kapal yang diduga membuang limbah minyak hitam di perairan Kepri harus ditindak tegas oleh aparat penegak hukum (APH) yang berwenang.

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyebut, tindakan itu perlu dilakukan guna memberi efek jera, karena ketika ada satu atau dua kapal yang ditangkap terkait dugaan membuang minyak hitam sembarangan di laut, maka persoalan cemaran minyak hitam tersebut diharapkan tidak berulang kali terjadi setiap tahunnya.

“Saya tidak tahu pasti sumber minyak hitam itu dari mana, tapi diduga berasal dari pembuangan kapal-kapal yang melintasi perairan dalam maupun luar negeri,” kata dia, Selasa (10/2).

Ia mendorong pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota melalui dinas terkait berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mencari solusi konkret menangani persoalan minyak hitam yang belakangan mencemari perairan Kabupaten Bintan, Kabupaten Lingga hingga Batam.

BACA JUGA:  Realisasi Investasi Triwulan II 2025 di Kepri, Natuna Cuma Rp 2 Miliar

Ia juga meminta aparat berwenang, seperti TNI AL serta Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai patroli aktif di perairan Kepri guna mengawasi aktivitas kapal supaya tidak membuang limbah minyak hitam sembarangan di laut.

“Persoalan minyak hitam ini sudah terjadi belasan tahun dan memerlukan penanganan serius lintas sektor, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ucap dia. 

Ia menambahkan pencemaran minyak hitam, khususnya di Bintan sangat berdampak negatif terhadap ekosistem ekonomi pesisir, karena bisa memicu kematian biota laut hingga menyebabkan hasil tangkapan nelayan berkurang.

Selain itu, lanjut Ansar, Bintan yang dikenal sebagai kawasan wisata bahari itu turut terdampak, sebab wisatawan jadi enggan bermain di pesisir pantai yang tercemar minyak hitam.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Hujan dan Berawan di Sejumlah Daerah, Juga di Kepri

“Sebagian turis asing mengeluhkan keberadaan minyak hitam tersebut, karena mereka tidak bisa bermain di pantai,” ucap Ansar.

Dalam beberapa pekan terakhir, ada sekitar 1.000 karung limbah minyak hitam terdampar di pesisir laut dan pantai di sepanjang kawasan Desa Malang Rapat hingga Pantai Trikora.

Cairan zat kimia itu diduga sengaja dibuang oleh kapal-kapal di tengah situasi musim angin utara, kemudian terbawa arus menuju perairan Kepri.(ant)