Batam, Posmetrobatam.co: Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) mendorong percepatan penguatan industri perawatan pesawat nasional atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) agar Indonesia mampu menjadi pusat layanan MRO di kawasan Asia.
Ketua IAMSA yang juga Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi, menyampaikan hal itu saat membuka Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Radisson Batam, Selasa (9/6).
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama MRO di tingkat regional, tetapi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada aspek regulasi, investasi, serta kapasitas perawatan komponen dan mesin pesawat.
Andi menyebut tema IMROS 2026, Strengthening Indonesia’s Position as Asia MRO Hub, menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia di sektor kedirgantaraan.
Terkait regulasi, IAMSA menyoroti persoalan larangan dan pembatasan (lartas) serta klasifikasi HS Code yang masih menjadi kendala industri. Namun, ia mengatakan pemerintah telah mulai menyederhanakan aturan tersebut, termasuk pembahasan pengecualian lartas untuk industri penerbangan yang sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan aturan lanjutan terkait fasilitas impor suku cadang pesawat.
“Untuk spare part pesawat, bea masuk saat ini diarahkan menjadi 20 persen. Tahapan pembahasannya sudah selesai dan sebelumnya juga telah diumumkan pemerintah. Sekarang prosesnya masih tahap simbolisasi dan kami menunggu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) diterbitkan,” ujar Andi.
Dari sisi pasar, IAMSA mencatat potensi industri MRO nasional masih besar namun belum sepenuhnya dinikmati pelaku dalam negeri. Industri MRO terbagi dalam empat segmen, dengan perawatan struktur pesawat atau airframe sudah mencapai sekitar 90 persen dikerjakan di dalam negeri. Namun, tantangan terbesar masih berada pada perawatan komponen dan mesin pesawat.
“Kendala kita ada di komponen dan engine. Investasinya sangat besar. Banyak OEM sekarang membangun fasilitas MRO sendiri sehingga semakin eksklusif. Untuk engine, sekitar 70 persen masih dikerjakan di luar negeri,” kata Andi.
Andi menambahkan, dalam lima tahun ke depan belum terlihat adanya investasi besar untuk fasilitas perawatan mesin baru di Indonesia. Karena itu, IAMSA akan fokus memperkuat kapasitas di sektor komponen dan mesin untuk menarik kembali sekitar 46 persen pasar MRO nasional yang masih mengalir ke luar negeri.
Selain itu, GMF AeroAsia juga tengah mematangkan rencana pengembangan di Kertajati Aerospace Park sebagai bagian dari ekspansi industri.
Ia menegaskan Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk menjadi hub MRO Asia, seperti pasar penerbangan yang besar, pertumbuhan armada domestik, tenaga kerja kompeten, serta posisi geografis yang strategis.
Sementara itu, Sekretaris Deputi Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Infrastruktur RI, Rustam Efendi, menegaskan bahwa industri penerbangan tidak hanya bergantung pada pembangunan bandara dan pertumbuhan armada, tetapi juga pada kesiapan ekosistem pendukung, termasuk MRO.
Menurutnya, akses terhadap layanan MRO menjadi faktor penting dalam menciptakan industri penerbangan yang efisien dan kompetitif.
“Kalau ingin sektor penerbangan kita kompetitif, tidak cukup hanya bicara avtur atau kapasitas bandara. MRO menjadi salah satu komponen penting yang menentukan efisiensi dan keberlanjutan industri penerbangan,” terangnya.
Rustam menyebut sektor penerbangan memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, sehingga penguatan MRO menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional.
Ia juga menjelaskan pemerintah kini menggeser pendekatan pembangunan dari infrastruktur fisik ke konektivitas terintegrasi, di mana MRO menjadi bagian dari sistem pendukung yang terhubung dengan kawasan industri dan logistik. Namun, Indonesia tidak dapat meniru langsung model negara lain seperti Singapura.
“Kita boleh belajar dari Singapura, tetapi tidak bisa membandingkan secara langsung. Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau. Strateginya adalah membangun beberapa titik hub dan pusat kargo,” kata Rustam.
Pemerintah saat ini memprioritaskan pengembangan beberapa wilayah sebagai simpul konektivitas, seperti Batam, Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Untuk mendukung industri MRO, pemerintah juga menata ulang konektivitas antara pelabuhan, bandara, kawasan industri, dan sistem distribusi barang agar proses logistik lebih efisien, termasuk percepatan kepabeanan dan integrasi moda transportasi.
Ke depan, Kepri diproyeksikan menjadi kawasan pengembangan konektivitas terintegrasi yang mendukung terbentuknya ekosistem aerocity dan industri penerbangan global.
Sementara itu, Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan pengembangan industri penerbangan menjadi salah satu prioritas untuk memperkuat investasi dan daya saing Batam.
Ia menyebut kawasan sekitar Bandara Hang Nadim diproyeksikan menjadi pusat industri aerospace dan MRO, sementara kawasan ekonomi khusus (KEK) Batam Aero Technic terus diperluas.
Saat ini, kawasan tersebut telah menyerap sekitar 5.000-6.000 tenaga kerja dan ditargetkan mencapai 16 ribu tenaga kerja. BP Batam juga menyiapkan tambahan lahan sekitar 100 hektare untuk mendukung pengembangan industri MRO dan sektor pendukung lainnya.
“Kami ingin mengajak pelaku industri memanfaatkan master plan pengembangan kawasan bandara,” pungkasnya. (hbb)









