Perekonomian Kepri 2025 Lanjutkan Tren Positif, Tertinggi di Sumatera

90

Batam, posmetrobatam.co: Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sepanjang tahun 2025 menunjukkan kinerja yang solid dan penuh optimisme. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 7,89 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 7,48 persen (yoy).

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Kepri sepanjang 2025 mencapai 6,94 persen (cumulative to cumulative/ctc) dan menjadi yang tertinggi di wilayah Sumatera. Capaian ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi Sumatera yang tercatat sebesar 4,54 persen (yoy) pada triwulan IV 2025 dan 4,81 persen (ctc) sepanjang tahun 2025.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Ronny Widijarto P, menyampaikan bahwa kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh sektor-sektor utama perekonomian. Sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan mencatat pertumbuhan yang kuat dan memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi daerah.

Sepanjang 2025, sektor industri pengolahan tumbuh 7,52 persen (ctc) dengan andil 3,14 persen, meskipun mengalami perlambatan dibanding tahun sebelumnya akibat dinamika kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh tinggi dan terakselerasi sebesar 16,01 persen (ctc) seiring mulai beroperasinya lapangan migas sejak Mei 2025.

BACA JUGA:  Komitmen Perkuat Perekonomian Pesisir, Amsakar-Li Claudia Serahkan Bantuan Sarana Tangkap Nelayan

Pertumbuhan sektor konstruksi sebesar 5,30 persen (ctc) didorong oleh berlanjutnya pembangunan berbagai proyek strategis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) di Kepri. Adapun sektor perdagangan tumbuh 7,55 persen (ctc), sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Kinerja ekonomi yang kuat juga tercermin dari sektor keuangan. Pada Desember 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 13,22 persen (yoy), sementara penyaluran kredit meningkat signifikan sebesar 25,92 persen (yoy). Pembiayaan kepada korporasi dan UMKM masing-masing tumbuh 37,00 persen (yoy) dan 13,21 persen (yoy), menandakan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri pada 2025 didorong oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,81 persen (ctc) dengan andil 2,81 persen. Kinerja PMTB yang kuat ditopang oleh iklim investasi yang kondusif, baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), serta kemudahan perizinan melalui penerbitan PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2025.

BACA JUGA:  Politikus Gerindra Ini Justru Dukung Hakim MA yang Sunat Hukuman Sambo jadi Seumur Hidup

Konsumsi rumah tangga juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,84 persen (ctc) dengan andil 1,51 persen, sejalan dengan tingkat keyakinan konsumen yang tetap optimistis. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level 122,29, jauh di atas ambang optimistis (indeks >100). Selain itu, net ekspor tumbuh kuat sebesar 20,52 persen (ctc) dengan andil 2,93 persen, didorong oleh permintaan yang tetap tinggi terhadap komoditas unggulan Kepri.

Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, Bank Indonesia terus mendorong digitalisasi sistem pembayaran melalui pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Hingga Desember 2025, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 99,44 juta transaksi, tumbuh 192,69 persen (yoy), dengan nilai transaksi sebesar Rp11,54 triliun atau tumbuh 129,60 persen (yoy). Transaksi QRIS Cross Border dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura juga menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan sejak diimplementasikan.

BACA JUGA:  Amsakar Hadiri Haul Akbar Ke-16, Ribuan Jemaah Padati Masjid Agung Raja Hamidah

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi Kepri tetap terkendali. Sepanjang 2025, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri mencatat inflasi sebesar 3,47 persen (yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen. Inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan, cabai merah, angkutan udara, cabai rawit, dan daging ayam.

Ke depan, perekonomian Kepri diprakirakan tetap tumbuh positif. Prospek tersebut didukung oleh keberlanjutan pengembangan KEK, KI, serta Proyek Strategis Nasional (PSN), ditopang kepastian iklim investasi melalui PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2025.(hbb)