Temukan Fosil Tengkorak Purba di Turki, Peneliti Ragukan keberadaan Nenek Moyang di Afrika

83
Ilustrasi penemuan tengkorak. (Jawapos)

Penemuan terbaru terkait fosil tengkorak kera di Turki menurut para ilmuwan tak lagi yakin asal nenek moyang manusia, termasuk kera adalah dari Afrika. Penemuan ini menunjukkan bahwa hominin (manusia) mungkin pertama kali berevolusi di Eropa.

Dikutip dari Bussines Insider pada Selasa (5/9) penemuan tengkorak kera purba itu telah menentang keyakinan lama bahwa nenek moyang kera dan manusia berasal dari Afrika, menurut sebuah studi baru yang kontroversial.

Sebagian tengkorak kera yang disebut Anadoluvius turkae ditemukan di wilayah Cankiri, Turki. Fosil tersebut diperkirakan berada pada 8,7 juta tahun yang lalu di Turki.

Sementara itu temuan fosil hominin purba yang mencakup manusia, kera purba di Afrika usianya sekitar tujuh juta tahun.

BACA JUGA:  Anggota DPRD Jadi Korban Pesawat Jet Bisnis Jatuh di Selangor

Penemuan ini telah menantang pandangan umum bahwa nenek moyang kera dan manusia berawal dari benua Afrika. Para peneliti mengatakan temuan ini kemungkinan menunjukkan bahwa hominin mungkin pertama kali berevolusi di Eropa sebelum bermigrasi ke Afrika.

“Temuan kami lebih lanjut menunjukkan bahwa hominin tidak hanya berevolusi di Eropa barat dan tengah, tetapi menghabiskan lebih dari lima juta tahun berevolusi di sana dan menyebar ke Mediterania timur sebelum akhirnya menyebar ke Afrika. Ini mungkin sebagai konsekuensi dari perubahan lingkungan dan berkurangnya hutan,” kata Profesor David dimulai, seorang ahli paleoantropologi dari Universitas Toronto dan salah satu penulis senior penelitian ini. Dilansir dari The Telegraph.

BACA JUGA:  Israel Blokade Ratusan Warga Palestina yang Ingin Shalat Tarawih di Masjid Al-Aqsa

“Bukti baru ini mendukung hipotesis bahwa hominin berasal dari Eropa dan menyebar ke Afrika bersama banyak mamalia lainnya antara sembilan dan tujuh juta tahun lalu, meski hal ini tidak membuktikannya secara pasti,” ucapnya.

Untuk membuktikan hal ini perlu ditemukan lebih banyak fosil dari Eropa dan Afrika antara tujuh dan delapan juta tahun yang lalu untuk mencoba menemukan hubungan antara kedua kelompok tersebut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kera purba tersebut memiliki berat sekitar 110 pon (49 kg) yang kemungkinan hidup di hutan kering dan kemungkinan besar menghabiskan banyak waktu di tanah.

Tengkorak itu ditemukan pada tahun 2015 namun signifikansinya dibahas dalam penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di jurnal Communications Biology. Peneliti lain mengatakan temuan ini tidak menantang pemahaman kita tentang asal usul manusia.

BACA JUGA:  Memveto Keanggotaan Penuh di PBB, AS Dikecam Palestina

“Ini telah menjadi perdebatan yang sudah berlangsung lama mengenai kera besar dan asal usul kita,” kata Profesor Chris Stringer, pemimpin penelitian evolusi manusia di Natural History Museum di London. (jp group)