WALHI dan The Prakarsa Soroti Kerusakan Lingkungan Akibat Pertambangan Timah

51

posmetrobatam.co– Jakarta– Indonesia merupakan penghasil timah terbesar kedua didunia setelah China, ini merupakan suatu kebanggaan bagi Indonesia, karena sudah di akui dunia. Namun dibalik kesuksesan itu ada dampak negatif bagi manusia dan lingkungan sekitar pertambangan. Sejumlah aktifis lingkungan sangat prihatin dengan kondisi tersebut. The Prakarsa dan Walhi memaparkan pada masyarakat dan para jurnalis keadaan terkini di Bangka Belitung daerah pertambangan timah di Indonesia di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat Rabu (4/2/2026).

Dalam Dialog Kebijakan dan Diseminasi Hasil Penelitian dengan tema “Menakar Keadilan Dalam Transisi Energi: Bisnis dan HAM Pada Tata Kelola Rantai Pasok Timah di Indonesia”,  Peneliti The Prakarsa, Ari Wibowo menjelaskan bahwa perusahaan tambang timah hanya memikirkan keuntungan semata tanpa memperdulikan kondisi masyarakat dan lingkungan yang tercemar.

BACA JUGA:  Pesan Tiket Pesawat Tujuan Batam, Wanita Ditipu Karyawan Travel Rp77 Juta

“Jika pertambangan timah dibiarkan terus melakukan eksploitasi, maka masyarakat terkena imbasnya. Mereka tak bisa lagi bertani karena lahan perkebunan semakin sempit, lingkungan semakin tercemar menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar pertambangan, anak- anak jadi malas bersekolah karena ikut kerja ditambang,” Jelas Ari.

Ari juga menuturkan, dalam standar hukum internasional perusahaan rantai pasok bisa saja menghentikan pembelian di Indonesia . Ari melihat dengan adanya eksploitasi terus menerus akan jadi zona pengorbanan.

“Perusahaan tambang menyampaikan pada masyarakat banyaknya dampak positif jika ada aktivitas pertambangan, namun mereka tidak berani membeberkan dampak buruk akibat aktivitas pertambangan. Disini saya melihat tidak adanya keseimbangan informasi, karena jika mereka beri tahu sudah pasti masyarakat menolak dibangunnya pertambangan,” ungkapnya

BACA JUGA:  Jam Kerja ASN Diatur Perpres 21/2023 saat Ramadan 1446 Hijriah, tak Berlaku Jajaran Polri dan TNI

Ari mengatakan bahwa, dampak buruk dari perusahaan tambang yakni adanya korban meninggal dunia setiap tahunnya. Ditambah lagi kerusakan lingkungan, hutan dan perairan yang tercemar, walau ada temuan-temuan seperti ini. Perusahaan tambang seolah bungkam dan menutupi kesalahannya, bahkan media juga dilarang menulis keburukan dari Perusahaan Tambang.

Dalam kesempatan yang sama WALHI Bangka Belitung Raya, Ahmad Subhan Hafiz juga mengungkapkan Perusahaan Tambang Timah sering sekali hanya menyampaikan dampak baiknya saja, bagaimana dampak dari praktik pertambangan timah terkait ekonomi dan lain semacamnya, tanpa menyampaikan dampak buruknya pada masyarakat sekitar pertambangan.

“Kita melihat bagaimana kondisi sosial dan ekologis akibat dampak-dampak seperti ini. Hingga tahun 2025 luar biasa parahnya, tidak pernah disampaikan jika perusahaan tambang punya dampak buruk terhadap kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu Perlu ada kesetaraan pengetahuan. Ada dampak negatif di pertambangan,” katanya.

BACA JUGA:  Beli dan Jual Emas Batangan Kena Pajak, 6 Mei Harga Per Gram Rp 1,9 Juta

Ia juga mengajak lembaga independen, kampus dan masyarakat agar berupaya sesuai peran masing- masing sehingga dapat diperhitungkan dalam rantai bisnis, memantau perusahaan tambang dalam operasi bisnisnya agar tetap menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.
(Fri)