POSMETROBATAM.CO: Apakah Anda merasa dimanja sejak kecil? Ternyata, pola asuh yang terlalu memanjakan anak dapat meninggalkan dampak besar pada perkembangan kepribadian mereka saat dewasa.
Menurut psikologi, orang yang dibesarkan dengan pola memanjakan cenderung menunjukkan beberapa ciri kepribadian tertentu yang dapat bertahan hingga dewasa.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (30/11), terdapat delapan ciri kepribadian yang sering muncul pada orang dewasa yang terlalu dimanja saat kecil, berdasarkan wawasan psikologi dan pengamatan sosial:
- Kurangnya Kemandirian
Orang yang dimanja sejak kecil sering kali kesulitan membuat keputusan sendiri dan bergantung pada orang lain, seperti pasangan atau teman, untuk menyelesaikan masalah. Mereka tidak terbiasa menghadapi tantangan dan sering merasa takut menghadapi situasi baru. - Kesulitan Menghadapi Penolakan
Karena terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan, mereka mungkin tidak tahu bagaimana cara menghadapi penolakan atau kegagalan. Bahkan penolakan kecil bisa terasa sangat besar dan menyebabkan rasa frustrasi yang berlebihan. Mereka sering kali bertindak defensif atau menyalahkan orang lain ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. - Ekspektasi yang Tidak Realistis
Orang yang dimanja sering kali memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap hidup, pekerjaan, atau hubungan. Mereka cenderung menganggap bahwa orang lain atau dunia harus memenuhi standar yang mereka tetapkan, dan kecewa jika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut. - Kurangnya Empati
Salah satu dampak memanjakan anak adalah kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Mereka lebih fokus pada kebahagiaan pribadi dan kesulitan untuk memahami sudut pandang orang lain, sehingga sering dianggap egois atau tidak sensitif. - Kesulitan Menjalin Hubungan yang Seimbang
Dalam hubungan, mereka cenderung mengharapkan perhatian dan pengorbanan terus-menerus dari pasangan atau teman tanpa memberikan timbal balik yang setara. Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam hubungan dan bahkan konflik atau perpisahan. - Ketidakmampuan Menghadapi Kritik
Orang yang dimanja sering kali sulit menerima kritik, meskipun kritik tersebut bersifat konstruktif. Mereka bisa merasa tersinggung atau merespons dengan defensif, yang menghambat proses pembelajaran dan perbaikan diri. - Kecenderungan Menghindari Tanggung Jawab
Terbiasa hidup tanpa harus memikul tanggung jawab besar, mereka cenderung menghindari tugas atau pekerjaan yang menuntut usaha lebih. Dalam lingkungan kerja, mereka mungkin mencari cara untuk menghindari pekerjaan yang menantang atau sering mengandalkan orang lain untuk menyelesaikannya. - Rasa Hak yang Berlebihan (Entitlement)
Salah satu ciri paling menonjol adalah rasa hak yang berlebihan. Mereka sering merasa bahwa dunia atau orang lain berutang sesuatu kepada mereka, hanya karena keberadaannya. Sikap ini bisa membuat mereka kurang menghargai usaha orang lain dan bahkan menyebabkan konflik dalam hubungan pribadi atau profesional.
Bagaimana Mengatasi Pola Ini?
Meskipun dampak dari pola dimanjakan bisa bertahan hingga dewasa, ada cara untuk mengubahnya, seperti:
- Menghadapi tantangan kecil: Mulai dengan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
- Mendengarkan umpan balik: Berlatih menerima kritik tanpa reaksi defensif.
- Mengembangkan empati: Berusaha memahami perspektif orang lain melalui komunikasi yang mendalam.
- Menetapkan batasan diri: Mengurangi ekspektasi yang tidak realistis dan menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Dengan kesadaran dan upaya untuk mengatasi pola perilaku ini, seseorang bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih mandiri, empatik, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.(*)